Taufan Di Atas Angin Karya Abu Hanifah
Pengarang : Abu Hanifah (El Hakim)
Penerbit : Balai Pustaka Jakarta, 1949
Seri Nomor : BP No. 1660
Tebal Buku : 221 halaman
Kisah dalam buku ini menggambarkan suasana benua Asia yang telah menjadi panas menjelang kedatangan Jepang menyerbu negara-negara di Asia yang dikuasai oleh Sekutu. Buku ini ditulis oleh Dokter Hanifah alias El Hakim yang berjudul Taufan di Atas Asia. Buku ini terbit pertama kali pada tahun 1949. Drama-drama yang termuat dalam Taufan di Atas Asia pada masa pendudukan Jepang sering dipentaskan oleh sandiwara penggemar Maya, yang didirikan oleh Umar Ismail dengan bantuan Rosihan Anwar dan El Hakim.
El Hakim adalah nama samaran Dokter Abu Hanifah, kakak kandung Umar Ismail. El Hakim adalah sastrawan Indonesia pada pendudukan Jepang. El Hakim mendapat gelar Datoek Maharadja Emas, pertama bekerja pada berbagai rumah sakit Pemerintah. Menjadi redaktur berbagai majalah perhimpunan pemuda, seperti: Jong Sumatra periode 1923-1926, Pemoeda Indonesia, Indonesia Raya dari PPPI periode 1926-1930, dan Indonesia Moeda tahun 1931. Ia salah seorang tokoh Sumpah Pemuda 1928. Ketika Jepang datang, ia menjadi anggota Barisan Pemuda Asia Raya dan menjadi tokoh perintis kemerdekaan RI.
El Hakim, dengan karya-karyanya yang dipentaskan oleh perkumpulan drama amatir Maya, menulis Taufan di Atas Asia dan lain-lain di tahun 1943. Bersama Usmar Ismail, adiknya, dan Armijn Pane, menandai periode drama-drama Indonesia di masa Jepang. Ia pernah ingin merevisi tulisan-tulisanya berjudul Cita-Cita Perjuangan yang ditulis tahun 1946. Tulisan itu ditujukan kepada generasi muda sekarang yang menurutnya kurang ikhtiar. Selain praktik sebagai dokter di masa mudanya tahun 1932, ia pernah menjadi anggota BKR periode 1945-1950, Ketua Fraksi Masyumi dalam KNIP, Ketua Delegasi Indonesia ke Inter-Asian Relation Conference di New Delhi, India tahun 1947, ketua Delegasi Indonesia ke UNESCO, Firenze, Italia tahun 1950 dan anggota eksekutif Headquarters UNICEF di New York, Amerika Serikat pada tahun 1951.
Di massa pendudukan Jepang, di samping berpraktik sebagai dokter dan sebagai sastrawan, El Hakim giat pula dalam gerakan politik dan sosial, terutama gerakan kepemudaan. Di masa kemerdekaan, El Hakim pernah menjadi menteri dan duta besar RI. El Hakim yang juga seorang pelukis pernah menjadi Menteri PPK (P&K) R.I.S. Terakhir ia memangku jabatan sebagai Dubes RI untuk Brazilia. Ia mempunyai seorang istri dan 3 orang anak serta 4 orang cucu. Sebelum pergi ke Amerika dan Eropa, beliau berpandangan radikal, yakni dikatakan bahwa negara barat bersifat matrealistis, sedangkan negara timur bersifat idealistik. Namun setelah beliau pergi ke Amerika dan Eropa, barulah secara tegas ia mengatakan bahwa di negara barat juga terdapat idealisme. Tanggal 4 Januari 1980 ia wafat di Rumah Sakit Pusat Angkatan Darat Gatot Subroto akibat menderita sakit imbuli, kelumpuhan pada masa tua. Dikebumikan di Perkuburan Karet, seperti juga adik kandungnya, Usmar Ismail.
Karya-karya yang telah El hakim ciptakan antara lain yaitu sebuah drama yang dibukukan dengan judul Taufan di Atas Asia. Ada empat buah drama di dalamnya, yaitu ”Taufan Di Atas Asia” terdiri dari 4 bagian, ”Intelek Istimewa” terdiri 3 bagian, ”Dewi Reni” 3 babak, ”Insan Kamil” 3 babak, ”Drama Rogaya” 4 babak, ”Mambang Laut” 3 babak belum pernah dibukukan. Selain drama, ia juga menulis roman Dokter Rimbu (1952).


Komentar
Posting Komentar