Sejarah Sebagai Sumber Inspirasi: Faisal Oddang

Dunia sastra Indonesia telah diterpa angin sejuk dengan kehadiran karya-karya salah satu sastrawan muda Indonesia, yaitu Faisal Oddang. Oddang dengan cerpennya yang berjudul Di Tubuh Tarra, dalam Rahim Pohon dinilai berhasil menyusun sebuah karya sastra yang khas dan kaya akan ungkapan orisinal bahasa Indonesia (Messwati, 2019). Cerpen lain dari Oddang adalah Kapotjes dan Batu yang Terapung yang tidak kalah bagusnya dan berhasil memberikan Oddang penghargaan yang sama seperti cerpen Di Tubuh Tarra, dalam Rahim Pohon, yaitu penghargaan Cerpen Terbaik Kompas. Dengan prestasi-prestasi yang gemilang tersebut, terdapat proses yang Oddang lewati hingga sampai ke titik menjadi salah satu penulis muda berbakat Indonesia. Proses tersebut dimulai sejak masa kecil Oddang.

  Novelis kelahiran Wajo, Sulawesi Selatan pada 18 September 1994 tersebut sedari kecil sudah memiliki hobi membaca. Hobi membacanya tumbuh akibat sepupunya yang berprofesi sebagai pustakawan sekolah kerap meminjami Oddang dengan berbagai buku sastra seperti buku terbitan Balai Pustaka; Sitti Nurbaya karya Marah Rusli dan Kasih Tak Sampai karya Tulis Sutan Sati. Menurut Oddang, hobi membacanya juga bisa muncul karena dulu di kampungnya tidak ada alternatif hiburan lain serta lampu yang cepat padam membuat membaca buku menjadi satu-satunya opsi hiburan bagi Oddang di masa kecil. Kebiasaan ayahnya yang senang mengajak Oddang untuk mendengarkan sandiwara di radio seperti Saur Sepuh dan Tutur Tinular juga ikut turut andil menumbuhkan hobi membaca dan minat menulisnya.

  Akhirnya di tahun 2012 cerpen Oddang untuk pertama kalinya dimuat di koran lokal Harian Fajar. Cerpennya tersebut bercerita mengenai cinta remaja dan dimuat beberapa hari sebelum Hari Valentine. Setelah cerpennya berhasil dimuat di media, dunia kepenulisan menjadi lebih menarik untuk Oddang saat remaja. Minatnya untuk menulis semakin besar dan akhirnya ia memutuskan untuk melanjutkan pendidikan di Jurusan Sastra Indonesia Universitas Hasanuddin, Makassar. Di balik keputusannya untuk menekuni dunia kepenulisan tersebut, Oddang rela merantau jauh dari kampung halamannya dan merupakan pengalaman pertama Oddang pergi jauh dari keluarganya. Pengorbanan tersebut berbuah manis dengan lingkungan baru Oddang di Jurusan Sastra Indonesia Universitas Hasanuddin membuatnya makin banyak membaca buku sastra dan menjaga semangat menulisnya untuk terus berkarya.

    Lingkungan yang mendukung, minat menulisnya yang semakin besar, serta bahan bacaan Oddang yang semakin variatif akhirnya menghasilkan prestasi dengan didapatnya penghargaan Cerpen Terbaik Kompas tahun 2014 dengan judul cerpennya Di Tubuh Tarra, dalam Rahim Pohon. Tidak berhenti sampai di situ, pada tahun yang sama, Oddang juga memperoleh penghargaan ASEAN Young Writers Award 2014 dari Pemerintah Thailand. Novelnya yang berjudul Puya ke Puya (2015) menjadi pemenang ke-4 dalam Sayembara Novel Dewan Kesenian Jakarta 2014 serta terpilih sebagai novel terbaik oleh majalah Tempo pada 2015. Tahun 2015 Oddang juga menerima penghargaan sebagai Tokoh Seni Tempo 2015 di bidang prosa. Berikut sederet prestasi yang Oddang dapatkan sebagai seorang penulis.

o    Cerpen Terbaik Kompas 2014;

o    Cerpen Terbaik Kompas 2018;

o    Pemenang IV Sayembara Novel Dewan Kesenian Jakarta 2014;

o    “ASEAN Young Writers Award” 2014;

o    Tokoh Seni Tempo 2015;

o    “Robert Bosch Stiftung and Literarisches Colloquium Berlin” 2018;

o    “Iowa International Writing Program” 2018;

o    Finalis “Kusala Sastra Khatulistiwa” 2018

Karya-karya Faisal Oddang terkenal berkaitan dengan kisah sejarah serta tentang Sulawesi Selatan. Alasan keterkaitan tersebut muncul karena Oddang menganggap tulisannya merupakan hasil respons Oddang terhadap hal-hal yang terjadi di sekitarnya atau cerita-cerita yang secara kolektif terkumpul di pikiran Oddang (MLR, 2020). Contohnya seperti ketika Oddang mendengar cerita dari neneknya, bagaimana perempuan-perempuan di daerah Wajo membaluri diri dengan arang supaya tidak dibawa ke tangsi militer. Kemudian, cerita mengenai tragedi manusia serta dominasi orang-orang kuat kepada yang lemah. Cerita-cerita serta hal-hal yang terjadi di sekitarnya tersebut secara lihai Oddang olah hingga menjadi sebuah karya sastra yang cemerlang. Berikut karya-karya cemerlang dari Faisal Oddang.

o    Rain & Tears (Novel, 2014);

o    Di Tubuh Tarra, dalam Rahim Pohon (Cerpen Terbaik Kompas 2014);

o    Puya ke Puya (Novel, 2015);

o    Pertanyaan kepada Kenangan (Novel, 2016);

o    Manurung (Puisi, 2017);

o    Perkabungan untuk Cinta (Kumpulan Puisi, 2017);

o    Tiba Sebelum Berangkat (Novel, 2018);

o   Sawerigading Datang dari Laut (Kumpulan Cerpen, 2019) 



Daftar Pustaka

Messwati, E. D. (2019, Juli 5). Faisal Oddang dan Kisah Tragedi Manusia. Dipetik November 21, 2021, dari Kompas.id: https://www.kompas.id/baca/sosok/2019/07/05/faisal-oddang-dan-kisah-tragedi-manusia?status=sukses_login&status_login=login

MLR. (2020, Maret 17). FAISAL ODDANG: MENULIS IALAH USAHA MERESPONS PERISTIWA-PERISTIWA. Dipetik November 21, 2021, dari Crafters: https://crafters.getcraft.com/id-articles/faisal-oddang-menulis-ialah-usaha-merespons-peristiwa-peristiwa

Komentar

Postingan Populer