Sosok di Balik Laskar Pelangi: Andrea Hirata
Tentu kita sepakat jika novel Laskar Pelangi disinggahkan sebagai salah satu maskot karya sastra
di Indonesia. Novel ini tercatat dalam deretan karya sastra terlaris sepanjang
sejarah literatur Indonesia (Febriana, Wahyu, 2020). Untuk itu, kita akan
menilik sosok di balik goresan fenomenal 529 halaman berjudul Laskar Pelangi tersebut. Andrea Hirata
Seman Said Harun atau dikenal Andrea Hirata, adalah seorang novelis kelahiran
Belitung, Provinsi Bangka Belitung, tanggal 24 Oktober 1967. Nama Andrea Hirata
sebenarnya bukanlah nama pemberian kedua orang tuanya. Ketika lahir, ia diberi
nama Aqil Barraq Badruddin Seman Said Harun. Merasa tidak cocok dengan nama
itu, ia menggantinya beberapa kali hingga terpikirlah nama Andrea Hirata yang
kini dikenal banyak orang.
Andrea Hirata merupakan anak kelima dari pasangan Seman
Said Harun Hirata dan Masturah. Jauh dari kehidupannya sekarang, Andrea kecil
tumbuh dengan kondisi keluarga yang memprihatinkan (Primastya, Maghita, 2019).
Meskipun tempat kelahirannya—Bangka Belitung—dikenal
sebagai pulau yang kaya akan sumber daya alam, tetapi kehidupan warga setempat
kala itu jauh dari kata berkecukupan. Andrea sendiri tumbuh dengan status
sebagai anak pegawai pas-pasan yang bekerja di PT Timah, Belitung. Di tempat
yang serba terbatas itulah Andrea Hirata belajar dan berjuang untuk lepas dari
belenggu keterbatasan melalui mimpi-mimpinya.
Kisah perjalanan
Andrea kecil banyak dituangkan dalam karyanya sendiri. Ia mengenyam pendidikan
sekolah dasar di tempat yang kondisi bangunannya kian memprihatinkan. Di
sekolah itu, Andrea bertemu sahabat-sahabatnya yang kemudian dijuluki dengan
sebutan ‘laskar pelangi’. Sebenarnya di Belitung sendiri ada sekolah lain yang
bangunannya terbilang jauh lebih layak. Sekolah tersebut ada di bawah naungan
PT Timah. Nahasnya, Andrea tidak memiliki hak untuk mengenyam pendidikan di
sekolah tersebut, mengingat ayahnya yang hanya menyandang status pegawai di PT
Timah (Uyun, N, 2018). Kendati harus menimba ilmu di tempat yang tidak layak,
Andre kecil tetap memiliki motivasi besar untuk terus belajar. Ia adalah
seorang pemimpi yang tak pernah mencundangi mimpinya sendiri.
Merangkak ke depan—usai melewati masa-masa terberatnya, Andrea Hirata memulai pendidikan tinggi
di Universitas Indonesia dan berhasil lulus dengan gelar Sarjana Ekonomi.
Setelah studinya selesai, Andrea bekerja di kantor pusat PT Telkom hingga
kemudian mendapatkan beasiswa Uni Eropa untuk studi Master of Science di
Universitas de Paris, Sorbonne, Perancis dan Sheffield Hallam University, Inggris.
Tesisnya tentang ekonomi telekomunikasi berhasil meraih penghargaan dari
Universitas dan ia dinyatakan lulus dengan predikat cumlaude. Tesis itu kemudian diadaptasi ke dalam bahasa Indonesia
dan menjadi buku referensi ilmiah (Primastya, Maghita, 2019).
Meskipun disiplin ilmu yang dipelajarinya adalah ekonomi,
tetapi Andrea tidak bisa lepas dari kecintaannya terhadap sastra. Ketika
menjadi relawan dalam bencana tsunami Aceh tahun 2004, ia mendapatkan inspirasi
dan pengalaman yang mendorongnya untuk membuat sebuah karya tulisan inspiratif
(Elisa, Irukawa, 2019). Melihat rumah, sekolah, dan bangunan-bangunan lain yang
porak-poranda, Andrea teringat akan memoar masa lampaunya. Inilah sebermula
terciptanya karya fenomenal berjudul Laskar
Pelangi. Nama Andrea Hirata pun kian melejit seiring dengan kesuksesan
novel pertamanya tersebut yang ternyata mampu mencuri minat banyak orang hingga
menduduki predikat best seller.
Laskar Pelangi menandai awal karier
kepenulisan Andrea Hirata. Novel ini diterbitkan pertama kali oleh Bentang
Pustaka pada tahun 2005 dan telah diterjemahan ke dalam berbagai bahasa. Tuaian
apresiasi dan pujian tak henti-hentinya membanjiri Andrea atas karya
jempolannya itu. Laskar Pelangi
bercerita tentang pengalaman masa kecil Andrea di Belitung. Di dalamnya berisi
tulisan memoar yang dipadukan dengan fiksi dan latar belakang sosiokultural.
Novel Laskar Pelangi awalnya terbit
melalui ketidaksengajaan (Ganesapos,
2015). Kala itu, teman Andrea menemukan draf buku di kamar kos Andrea dan
kemudian diam-diam membawanya ke penerbit untuk dipasarkan. Alhasil, novel Laskar Pelangi menuai banyak respon
positif dan kini telah dicetak hingga jutaan eksemplar.
Berkat Andrea dengan Laskar
Pelangi-nya, Belitung menjadi daerah yang semakin dikenal masyarakat nasional
maupun internasional (Primastya, Maghita, 2019). Bahkan, dari royalti yang
didapatkan, Andrea turut andil dalam pembangunan fasilitas di daerah Belitung.
Ia membangun perpustakaan literatur pertama di Indonesia yang kemudian disebut
sebagai Museum Kata. Museum tersebut dibangun di Jalan Laskar Pelangi Nomor 10,
Lenggang Gantong, Belitung Timur, pada tahun 2010. Museum itu kini menjadi
salah satu destinasi wisata yang mengangkat nama Belitung. Beberapa dari hasil
royalti yang didapat Andrea juga disisihkannya untuk kegiatan sosial seperti
membuka rumah singgah di daerah Bandung.
Tidak berpuas diri dengan Laskar Pelangi, Andrea Hirata enggan berhenti berkarya dan
menunjukkan goresan-goresan eksentriknya. Satu tahun setelah terbitnya Laskar Pelangi, lahirlah novel Sang Pemimpi (2006). Tahun berikutnya
disusul novel Edensor (2007) dan Maryam Karpov (2008). Keempat novel
tersebut tergabung menjadi satu identitas yang kemudian disebut tetralogi
“Laskar Pelangi”. Tidak jauh berbeda dengan Laskar
Pelangi, ketiga novel setelahnya juga bercerita seputar pengalaman dan
perjuangan akan mimpi-mimpi. Tetralogi ini sukses menyita perhatian dan
mendapat aplaus dari para pecinta sastra.
Novel-novel Andrea Hirata ajek melanggengkan
kesuksesannya. Pada tahun 2008, Laskar Pelangi
diangkat ke layar lebar dengan judul yang sama. Menggandeng Riri Riza sebagai
sutradara dan Mira Lesmana sebagai produser, film ini berhasil menyandang
predikat sebagai film terlaris kala itu dengan 4,6 juta penonton. Pada akhir
tahun 2009, Sang Pemimpi—novel
kedua dari tetralogi “Laskar Pelangi”—juga menyusul di angkat ke layar lebar dengan kembali menggandeng Riri
Riza sebagai sutradara. Film ini menjadi yang terlaris kedua di tahun 2009
dengan 1,9 juta penonton.
Belum juga berpuas dengan tetraloginya yang sukses besar,
Andrea terus melahirkan karya-karya lain yang tak kalah fenomenal. Hingga saat
ini, tercatat sudah delapan novel yang ditulis Andrea Hirata di luar empat
novel tetraloginya. Novel-novel tersebut yakni Padang Bulan (2010), Cinta di
dalam Gelas (2011), Sebelas Patriot
(2011), Ayah (2015), Sirkus Pohon (2017), Orang-Orang Biasa (2019), Guru Aini (2020), dan Buku Besar Peminum Kopi (2020). Kesemua
novel tersebut diterbitkan pertama kali oleh Bentang Pustaka, Yogyakarta.
Beberapa di antaranya telah diterjemahkan ke berbagai bahasa dan kembali
menorehkan catatan kesuksesan.
Apresiasi yang tak henti membanjiri karya Andrea Hirata
mampu mengantarkannya meraih berbagai penghargaan. Novel Edensor masuk dalam nominasi penghargaan nasional “Khatulistiwa
Literary Award” di tahun 2007. Pada tahun 2013, Andrea meraih penghargaan
internasional kategori fiksi umum dalam “New York Book Festival” untuk novelnya
Laskar Pelangi edisi Amerika. Di
tahun yang sama, Andrea kembali meraih penghargaan internasional “Buch Awards”
di Jerman untuk Laskar Pelangi edisi
Jerman. Satu tahun setelahnya, Laskar
Pelangi terpilih sebagai karya sastra kategori Vintage oleh penerbit Random
House dan karya Andrea itu dinobatkan sebagai novel terfavorit oleh sastrawan
Timur Tengah (Primastya, Maghita, 2019).
Belum usai sampai di situ, tahun 2015 Andrea Hirata
dianugerahi gelar “Honorary Doctor of Letters” atau “Doctor Honoris Causa” di
bidang sastra oleh Universitas Warwick, Inggris. Selang dua tahun, tepatnya
pada 2017, Andrea Hirata kembali memperoleh penghargaan budaya untuk novel Laskar Pelangi edisi Prancis. Berlanjut
lagi, Andrea juga sukses menyabet sejumlah award
seperti “Aisyiyah Award”, “Paramadina Award”, dan “Netpac Critic Award”. Tak
cukup dengan karya sastra, Andrea juga pernah meraih penghargaan atas esainya
yang berjudul View from my Window.
Esai tersebut ditulis bersama Orhan Pamuk dan Nadine Gordimer yang kemudian
berhasil terpilih dalam “Windows on the World”, New York (Primastya, Maghita,
2019).
Berbagai penghargaan yang berhasil diraih Andrea Hirata
tersebut bukan sekadar angin keberuntungan, sebilangan alasan tentu telah
melatarbelakanginya. Dilihat dari segi ide dan substansi, sudah tidak perlu
diperdebatkan lagi keelokkan karya-karya Andrea. Mengangkat kisah orang-orang
marginal, Andrea mampu menyuguhkan cerita yang menarik dan tentunya inspiratif.
Di samping itu, adapun segi lain yang menyokong keelokkan tulisan-tulisan
Andrea, yakni gaya kepenulisan. Dari segi penulisan, Andrea selalu mampu
menerjemahkan detail situasi ke dalam bahasa yang ringan, tetapi kaya makna. Di
tangan Andrea, tema berat sekalipun akan terasa ringan untuk dibaca.
Tulisan Andrea yang ringan itu tidak terlepas dari
kejujurannya dalam bercerita. Sesuatu yang ditulis dari hati, tentu mudah
diterima dengan hati pula. Mungkin hal ini menjadi alasan kuat atas segelintir
penghargaan yang pernah dianugerahkan kepada Andrea Hirata. Dalam tulisannya,
Andrea juga kerapkali menyelipkan unsur kejenakaan, barangkali bermaksud untuk
membuang jauh-jauh perasaan jenuh di benak pembaca karyanya. Kejenakaan ini
biasanya dihadirkan Andrea melalui jalinan alur dan karakter tokoh.
Perihal menulis, Andrea bukan tipe orang yang menggunakan outline atau kerangka terlebih dahulu. Ia tipikal penulis cepat yang lebih mengandalkan spontanitas (Bentang, 2020). Setiap alur cerita yang ditulis, hanya mengikuti ide skenario yang terlintas di kepalanya saat itu juga. Tak heran jika alur cerita yang tersaji dalam novel-novelnya terkesan encer, mengalir, dan mudah diikuti. Di balik spontanitasnya, teryata Andrea juga punya alasan tersendiri, bahwa ia telah melakukan riset sebelum menulis. Bahkan, waktu yang dihabiskan untuk riset terkadang lebih lama daripada waktu untuk menulis. Bagi Andrea, riset menjadi salah satu kunci kesuksesan karya yang akan dilahirkan nantinya.
Melalui Ganeca Pos (2015), Andrea berbagi sedikit tips menulis sukses. Menurutnya, menulis tidak melulu harus patuh pada tuntutan pasar, yang terpenting tulisan tersebut memiliki integritas. Menulis juga tidak ajek mengandalkan mood, bagi Andrea mood hanyalah alibi untuk rasa kemalasan. Andrea pun berbicara mengenai penulis sukses, pandangan Andrea tentang penulis suskes ialah penulis yang mampu menggerakkan pembaca untuk bertindak adiluhung setelah membaca tulisannya.


Komentar
Posting Komentar