Sebuah Karya Pencarian Jati Diri: Ratih Kumala

Ratih Kumala merupakan salah satu penulis wanita Indonesia yang namanya sudah tidak asing lagi di telinga penikmat sastra. Wanita yang lahir di Jakarta pada tanggal 4 Juni 1980 ini merupakan lulusan Sastra Inggris Universitas Sebelas Maret, Surakarta. Ia menikah dengan Eka Kurniawan pada tahun 2006, dan dikaruniai seorang putri bernama Kidung Kinanti Kurniawan yang lahir pada tanggal 3 Januari 2011. Kini, ia tinggal di Jakarta beserta keluarga kecilnya.

Sewaktu ia masih duduk di bangku SMP, Ratih Kumala menulis untuk dirinya sendiri. Karena pada awal ia terjun ke dunia menulis, ia memiliki bayak kegelisahan di dalam dirinya. Ia sempat vakum menulis saat SMA. Saat kuliah, Ratih Kumala mulai aktif menulis lagi dengan menulis puisi-puisi berbahasa Inggris, lalu berkembang ke cerita pendek dan novel. Buku bacaannya pun lebih berat. Kebanyakan buku-buku yang ia miliki adalah novel, baik itu novel berbahasa Inggris maupun Indonesia, sebagian pengembangan diri juga kumpulan esai. Pada akhirnya karyanya  tulisannya dibaca banyak orang, baginya sebuah tulisan itu bisa hidup dan sekarang ia tidak hanya menulis untuk dirinya sendiri namun juga kepada orang yang membacanya (Redaksi, 2014)

Ketika dirinya masih duduk di bangku perkuliahan, Ratih Kumala bergabung di sebuah komunitas sastra bernama Rumah Baca Bumi Manusia. Dia juga sempat ikut di Akademi Kebudayaan Yogyakarta dan Sketsa Kata. Karena teman-temannya banyak yang suka menulis dan kebetulan Ratih merupakan lulusan sastra inggris, membuatnya lama kelaamaan tertarik untuk menulis juga. Dimulai dari cerita pendek  yang dimuat di  majalah tapi lama kelamaan ratih tergerak untuk menulis novel. Sampai sekarang dia menjadi penulis professional.

Selama perjalanan karirnya sebagai seorang penulis professional, Ratih Kumala melewati berbagai rintangan. Kadang-kadang tulisannya dimuat di media massa, kadang-kadang ditolak atau sama sekali tidak terdengar kejelasan kabarnya. Penolakan-penolakan atas karyanya oleh penerbit sudah biasa ia rasakan, Ratih Kumala menganggap bahwa itu bagian dari prosesnya sebagai seorang penulis. Rintangan yang datang padanya tidak hanya soal penolakan saja. Pernah suatu ketika, saat ia menulis novelnya yang kedua berjudul Genesis, komputer miliknya eror dan hard disknya rusak dan ia kehilangan file karyanya. Secara terpaksa, Ratih Kumala menulis kembali novelnya tersebut sedari awal (Redaksi, 2014)

Sebagai seorang penulis professional, kadang Ratih Kumala merasa bahwa dirinya seolah terbelah menjadi dua. Pada satu sisi ia adalah sisi penulis industri, satu sisi lainnya ia adalah penulis idealis. Sehari-hari, Ratih Kumala bekerja sebagai penulis skenario, yang mana itu merupakan tugas dari penulis industri karena dirinya memiliki klien yang menuntut deadline. Namun, sebagai penulis sastra, Ratih Kumala harus memberi makan jiwanya agar tidak kering. Dalam hal ini, dirinya harus menulis sastra, entah itu cerita pendek ataupun novel. Menurutnya, itu adalah sebuah tulisan idealis yang tidak bisa diganggu gugat oleh siapapun.

Ratih Kumala memilih dua sosok penulis yang mempengaruhi karyanya, keduanya ialah Pramudya Ananta Toer serta penulis asal Jepang yang sebenarnya tidak terkenal bahkan hanya menerbitkan 2 buku, yaitu Hikaru Okuizumi. Baginya setiap penulis akan terpengaruh oleh tulisan yang dibaca, begitu pula dengan beberapa penulis tersebut yang mempengaruhi karya seorang Ratih Kumala. Ia juga sangat menyukai Catatan Pinggir karya Goenawan Mohammad dan mengagumi cara bertutur Remy Sylado, dan daya khayal JK Rowling (Redaksi, 2014).

Selain berprofesi sebagai penulis cerita pendek dan novel, Ratih Kumala juga merupakan  seorang penulis skenario. Ia pernah bergabung dalam tim penulis program Jalan Sesama, adaptasi Sesame Street untuk televisi Indonesia, serta memperagakan pekerjaan sebagai editor naskah drama, di sebuah televisi swasta.

Pada tahun 2018 Ratih Kumala mendapat beasiswa program residensi penulis di London, Inggris. Di masa residensi tersebut, Ratih juga memperkenalkan sastra Indonesia dan meluncurkan buku kumpulan cerpen berbahasa Inggris. Di sana, ia berbicara mengenai industri perbukuan Tanah Air dan kebangkitan penulis perempuan. Dirinya berkeinginan pembaca global juga mengenal sastra Indonesia yang tak kalah hebat ketimbang sastra di mancanegara lainnya.

Pada tanggal 20-25 Agustus 2019, Ratih Kumala bersama Sindhunata berkesempatan menghadiri “Beijing International  Book Fair 2019” bersama dengan Gramedia Pustaka Utama. Dalam rangka mempromosikan sastra Indonesia agar semakin dikenal, mereka mengisi 3 program, yaitu Writer’s Salon, Literary Night dan What We Talk About When We Talk About Indonesian Literature (Kumala, Ratih, 2019)

Sebagai seorang yang kini dikenal sebagai salah satu sastrawan perempuan di Indonesia, Ratih Kumala memiliki harapan suatu hari penulis di tanah air dapat menjadi profesi yang benar-benar menghidupi mereka yang memilih untuk menjadi penulis. Ia berharap negara dapat memberi penghargaan yang lebih tinggi untuk para penulis tanah air. Ratih Kumala juga berharap bahwa sastra Indonesia dapat dikenal di mancanegara dan dapat bersaing dengan sastra luar negeri.

Karya-karyanya yang ditulis Ratih Kumala sebagian besar berbicara soal perempuan dan kerap merepresentasikan diri sendiri. Karyanya yang diterbitkan pertama kali yaitu sebuah novel berjudul Tabula Rasa. Novel ini merupakan kisah serangkaian cinta kasih yang kompleks dan mengharukan antar tokohnya. Menyelipkan unsur LGBT di dalamnya yang pada saat itu masih dianggap tabu membuat novel ini semakin menarik untuk dibaca para penikmat sastra.

Novel Tabula Rasa  pertama kali diterbitkan oleh Grasindo pada tahun 2004 dan dicetak ulang oleh penerbit Gramedia Pustaka Utama pada tahun 2014. Ia menulis novel Tabula Rasa selama kurang lebih 1 tahun 8 bulan. Setelah novelnya selesai ia tulis, ia meminta beberapa temannya untuk membaca. Salah satu temannya menyarankan agar novel karyanya itu diikutsertakan lomba menulis novel “Dewan Keseniaan Jakarta 2003”, dan Ratih Kumala berhasil menjadi pemenang ke-3. Sehari setelah ia menang, ada beberapa penerbit yang langsung menghubunginya. Namun, dirinya memilih untuk menerbitkan karyanya di Grasindo karena beberapa alasan pertimbangan.

Karya keduanya yaitu Genesis, diterbitkan oleh Insist Press pada tahun 2005. Novel ini menampilkan salah satu tokoh yang mengalami gangguan kejiwaan, yaitu tokoh Ibu yang diceritakan terganggu kesehatan jiwanya. Selain dituturkan dengan bahasa yang penuh kreativitas, Ratih Kumala berupaya membongkar sisi paling buruk dari setiap manusia melalui beberapa tulisan-tulisannya.

Larutan Senja merupakan karya ketiga Ratih Kumala yang berupa kumpulan cerpen yang terdiri dari 14 cerita pendek. Buku ini ditulis pada tahun 2005. Ketika itu Ratih Kumala sedang aktif menulis sebuah cerita pendek. Maka dari itu, kebanyakan cerita pendek yang terdapat pada kumpulan cerita pendek Larutan Senja merupakan kumpulan cerita pendek yang sudah pernah dimuat di media, entah di koran atau majalah. Pada tahun 2018, buku kumpulan cerpen Larutan Senja diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris menjadi The Potion of Twilight yang telah diluncurkan di London. Ratih Kumala mengatakan bahwa buku tersebut sudah diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris sudah lama oleh Dr. Soe Tjen Marching. Beliau sendiri merupakan dosen South East Asian Studies di SOAS University of London. Di waktu yang bersamaan, Ratih pun sedang melakukan masa residensi (tinggal dan berkarya) di London.

Kronik Betawi terbit pertama kali sebagai cerita bersambung di harian Republika, Agustus-Desember 2008. Kemudian diterbitkan menjadi sebuah novel oleh Gramedia Pustaka Utama pada bulan Juni 2009. Fiksi ini ditulis selama kurang lebih satu tahun, berdasarkan ide cerita Nugroho Suksmato yang kemudian Ratih Kumala kembangkan menjadi novel. Dalam novel ini, Ratih Kumala bercerita tentang perjalanan Betawi dan anak daerahnya menghadapi modernisasi ibukota tercinta dengan mengambil latar jaman penjajahan hingga reformasi.

Karyanya yang kelima ini merupakan karyanya yang paling fenomenal. Berjudul Gadis Kretek yang masuk dalam sepuluh besar penerima penghargaan “Kusala  Sastra Khatulistiwa” tahun 2012 (Kumala, Ratih, 2012). Diterbitkan pada tahun 2012 oleh Gramedia Pustaka Utama dan diterjemahkan dalam bahasa Mesir, Inggris dan Jerman. Awalnya, Gadis Kretek ingin dibuat dalam bentuk cerita pendek, namun karena hasil riset yang ia lakukan sangat panjang dan lama hingga akhirnya banyak materi yang harus dicantumkan dalam cerita, alhasil Gadis Kretek lahir dalam bentuk novel setebal 274 halaman. 

Novel Gadis Kretek tidak sekadar bercerita tentang cinta dan pencarian jati diri para tokohnya. Dengan latar Kota M, Kudus, Jakarta, dari periode penjajahan Belanda hingga kemerdekaan, Gadis Kretek akan mengajak pembaca berkenalan dengan perkembangan industri kretek di Indonesia. Kaya akan wangi tembakau, sarat dengan aroma cinta. Novel ini memang berkisah tentang lika-liku bisnis kretek dari zaman penjajahan Jepang, zaman awal kemerdekaan, hingga di masa modern. Jadi, kisah novel Gadis Kretek ini menceritakan tiga generasi yang berbeda.

Ratih Kumala mengira bahwa dirinya tak lagi menerbitkan kumpulan cerpen karena saat itu ia sudah fokus untuk menulis sebuah novel. Namun pada tahun 2015, ia kembali menerbitkan buku kumpulan cerpen berjudul Bastian dan Jamur Ajaib yang diterbitkan oleh Gramedia Pustaka Utama. Kumpulan cerita pendek ini berisi 13 cerita pendek yang ia tulis sejak tahun 2007 hingga 2014. Sebagian ada yang sudah diterbitkan, sebagian lagi merupakan karya baru yang sengaja ditulis khusus untuk bukunya ini. Karyanya berhasil masuk 10 besar “Kusala Sastra Khatulistiwa” kategori prosa (Kumala, Ratih, 2015)

Wesel Pos menjadi karya ketujuh yang ditulis Ratih Kumala. Diterbitkan pertama kali pada tahun 2018 oleh Gramedia Pustaka Utama. Novel ini hanya memiliki 100 halaman saja, setiap babnya pun ditulis pendek yang dapat diselesaikann sekali duduk, untuk kemudian dilanjutkan lagi nanti. Novel Wesel Pos mengusung tema yang unik yaitu Wesel Pos. Kegamangan dan kegelisahan tentang kehidupan Jakarta yang keras dituturkan lewat tokoh utama yang berwujud wesel pos. Lewat novel Wesel Pos ini, Ratih Kumala mengajak kita untuk melihat sudut pandang lain kota Jakarta dari kacamata secarik wesel pos. 

Dari beberapa karyanya itulah, Ratih Kumala mendapatkan berbagai penghargaan, salah satunya menerima penghargaan “Kusala Sastra Khatulistiwa”. Ia juga pernah masuk menjadi semifinalis puisi berbahasa Inggris di “International Open Poetry Contest 2001”. Salah satu Cerita pendeknya yang tergabung dalam buku kumpulan cerpen Larutan Senja berjudul Nach Westen terpilih jadi salah satu cerpen terbaik di “Sayembara Cerpen Horison 2004” (Redaksi, 2014). 

Komentar

Postingan Populer