Resensi Cerita Pendek Antara Kau dan Aku karya Tere Liye

Judul Cerita Pendek    : Antara Kau dan Aku

Nama Pengarang     : Tere Liye

Penerbit             : Mahaka Publishing

Jumlah Halaman     : 6 halaman

Tanggal Terbit     : Mei 2012


Cerpen Antara Kau dan Aku merupakan cerita pendek yang masuk ke dalam buku antologi cerpen karya Tere Liye berjudul Berjuta Rasanya. Cerpen ini berada di urutan terakhir dari 15 cerpen yang disajikan oleh Tere Liye dalam buku antologi cerpennya. Tere Liye sendiri adalah penulis senior di dunia sastra yang bernama asli Darwis. Beliau lahir di Lahat, Sumatera Selatan pada tanggal 21 Mei 1979 dan merupakan anak ke-6 dari 7 bersaudara. Tere Liye merupakan lulusan Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia dan beliau sekarang selain berprofesi sebagai penulis juga sebagai akuntan. Darwis, yang memakai nama pena Tere Liye, telah banyak menerbitkan karyanya ke publik, yaitu Hafalan Shalat Delisa (2005), Bidadari-Bidadari Surga (2008), Ayahku Bukan Pembohong (2011), dan lain sebagainya. Buku antologi cerpen Berjuta Rasanya milik Tere Liye adalah buku ke-12 beliau yang diterbitkan ke publik.

Azhar dan Dahlia. Dua insan yang saling mendamba tetapi hanya bergantung kepada sebuah kebetulan dan selalu diam-diam dalam setiap usaha. Berusaha dalam diam memang cara aman dalam mendekati seseorang. Ya, diam. Diam dan bergantung kepada Tuhan semoga diberikan terbaik atas takdirnya, apalagi soal jodoh yang bertemu secara kebetulan. Kemudian, ketika Tuhan sudah mengabulkan, selanjutnya apa? Ketika Tuhan melakukan apa yang mereka pinta, selanjutnya bagaimana?

Cerpen Antara Kau dan Aku bercerita tentang dua insan yang sudah disebutkan di paragraf sebelumnya, Azhar dan Dahlia, saling suka tetapi saling tidak tahu kalau perasaan mereka terbalaskan. Azhar dan Dahlia adalah karyawan yang sekantor, satu lantai kerja, dan duduk hanya dipisahkan oleh meja-meja dan partisi setinggi pundak, juga dispenser dan printer sentral multi fungsi di tengah-tengah ruangan. Mereka bertemu secara kebetulan ketika jam makan siang di lift, lalu saling menyapa lantas sedikit basa-basi sebelum berpisah menuju tempat makan “favorit” masing-masing. Kemudian, sejak kebetulan tersebut, baik Azhar maupun Dahlia selalu mengusahakan untuk bertemu secara “kebetulan” di lift tepat ketika jam makan siang walaupun tidak janjian untuk bertemu. Namun, ketika keduanya tidak saling beranjak untuk bertemu secara “kebetulan”, semua berubah diluar dugaan mereka yang menganggap kisah romantis tidak perlu diusahakan.

Unsur Intrinsik

  1. Tema yang hendak diangkat oleh Tere Liye yaitu tema percintaan. 

  2. Tokoh di dalam cerpen ini ada 3, Azhar (berwatak penakut, tidak suka mengutarakan pikiran atau maksudnya), lalu Dahlia (berwatak tidak suka dianggap sebagai cewek agresif, tidak suka mengutarakan pikiran atau maksudnya), kemudian Andrei (pemberani, rapi, penggoda, dan playboy).

  3. Latar tempat adalah kantor, rumah Dahlia, dan pesta pernikahan anak direktur perusahaan. Latar waktu yaitu malam hari.

  4. Bahasa yang digunakan Tere Liye adalah bahasa ringan sehari-hari yang tidak baku.

Tere Liye membungkus apik cerpen 6 halamannya ini dengan memakai sudut pandang orang pertama dari masing-masing tokoh utamanya agar pembaca dapat lebih menghayati konflik batin yang dialami dari kedua tokoh utama cerpen ini. Selain itu, gaya bahasa Tere Liye yang ringan dalam menulis cerpen tentu akan lebih enak dibaca oleh para pembaca yang awam mengenai bahasa unik di dunia sastra. Dari gaya bahasa yang ringan itu, amanat dari cerpen mudah dimengerti oleh pembaca dan tentu saja pembaca bisa lebih mudah mengambil nilai positif amanat cerpen ini. Walaupun cerpen dibungkus dengan apik, gaya penuturan Tere Liye yang repetitif di dalam cerpen menimbulkan sedikit kebosanan ketika membaca cerpen Antara Kau dan Aku karyanya. Selain itu, kurangnya puncak konflik di dalam cerpen ini semakin menambah kebosanan dalam membaca cerpen yang terkesan monoton.

Dari cerpen Antara Kau dan Aku, Tere Liye hendak menyampaikan bahwa kita sebagai manusia hendaknya untuk terus terang mengenai isi hati sendiri, apalagi mengenai pendekatan terhadap lawan jenis. Di cerpen ini Tere Liye juga menekankan mengenai pentingnya berusaha dalam menggapai sesuatu karena Tuhan tidak akan mengubah nasib suatu kaum hingga mereka mengubah diri mereka sendiri. Maka dari itu, cerpen ini cocok untuk dibaca bagi kalangan remaja hingga dewasa yang tentu akan lebih bisa memaknai isi cerpen ini dimana memang di usia tersebut konflik batin kedua tokoh utama adalah problematika sehari-hari yang dialami di usia remaja hingga dewasa yang terkadang selalu memendam apa yang ia pikirkan dan hanya menuntut pengertian dari orang lain serta hanya bergantung dengan berdoa kepada Tuhan tanpa berikhtiar. Tere Liye untuk kesekiankalinya berhasil menulis karya yang selain berkualitas juga bisa memberikan pandangan baru kepada pembacanya.  

Komentar

Postingan Populer