Perempuan Cerdas di Balik Gelora Sastrawan Angkatan 66: Nh. Dini
NH Dini (Nurhayati Sri Hardini) dilahirkan dari pasangan Saljowidjojo dan Kusaminah. Ia anak bungsu dari lima bersaudara. NH Dini mengaku mulai tertarik menulis sejak kelas tiga SD. Buku-buku pelajarannya penuh dengan tulisan yang merupakan ungkapan pikiran dan perasaannya sendiri. Ia sendiri mengakui bahwa tulisan itu semacam pelampiasan hati. Nh Dini lebih dikenal sebagai seorang sastrawan yang kebanyakan dari kisah yang ditulisnya mengisahkan tokoh wanita yang memberontak karena hendak memperjuangkan harga dirinya sebagai manusia dari kecaman laki-laki.
NH Dini menikah dengan seorang diplomat Perancis bernama Yves Coffin. Dini berpisah dengan suaminya itu pada 1984, dan mendapatkan kembali kewarganegaraan RI pada 1985 melalui Pengadilan Negeri Jakarta. Pada saat bersuamikan Yves, Dini benar-benar memanfaatkan keadaannya sebagai seorang istri diplomat yang berkesempatan menetap di berbagai Negara.
Dia menulis cerita-cerita yang bersetting di berbagai Negara berdasarkan pengalamannya. Dini menulis “Pertemuan Dua Hati” pada tahun 1984. Melihat tahun penulisannya, Dini memiliki keinginan untuk mengeksplorasi dan menjelajahi dunia pendidikan, khususnya pada profesi guru. Sebuah dunia yang cukup asing untuk sebagian besar sastrawan Indonesia, karena tidak adanya pengalaman nyata dari mereka tentang dunia pengajaran. Namun, dengan kompetensi dan kualitasnya sebagai seorang sastrawan handal.
Dini mampu mengeksplor dunia pendidikan —khususnya profesi guru— berdasarkan kisah dan pengalaman teman dekatnya yang tidak lain adalah seorang guru. Sehingga novel “Pertemuan Dua Hati” yang ditulis oleh Dini, tidak hanya sekedar karya fiksi imajiner tetapi lebih tepatnya adalah sebuah karya sastra semi realistis yang mengacu pada kisah seseorang.
Dengan penuturan keakuan yang kuat dan lancar, NH Dini selalu menyajikan pergolakan batin wanita, bahkan hingga novelnya Pertemuan Dua Hati, yang keluar dari tema-tema yang umum dilakukannya di dalam novel-novel terdahulu. Pertemuan Dua Hati adalah salah satu karya Nh Dini.
Dalam Pertemuan Dua Hati, gaya berceritanya tidak jauh berbeda dari novel-novelnya yang telah diterbitkan, seperti Pada Sebuah Kapal, La Barka, Hati Yang Damai, Namaku Hiroko. Novel ini secara mengesankan mengambil segi pendidikan sebagai pusat temanya, namun tokoh wanitanya tetap menunjukkan pergolakan batin karena harus menghadapi persoalan keluarga yang rumit.
Tidak usah disangsikan lagi Nh Dini adalah salah satu pengarang wanita yang pernah produktif. Dengan karya-karyanya yang cukup segar dan jelas, kedudukannya cukup penting dalam sejarah sastra Indonesia. Perannya di dunia sastra tidak diragukan karena dia adalah perempuan pertama yang dengan blak-blakan menceritakan pengalaman hidupnya melalui cerita-ceritanya. NH Dini banyak disebut sebagai sastrawati feminis karena sebagian besar karyanya menyuarakan protes tentang ketidakadilan terhadap kaum wanita terutama dalam kehidupan rumah tangga. Hingga kini, Nh.
Dini telah menulis lebih dari 20 buku. Kebanyakan di antara novel-novelnya itu bercerita tentang wanita. Namun banyak orang berpendapat, wanita yang dilukiskan Dini terasa “aneh”. Ada pula yang berpendapat bahwa dia menceritakan dirinya sendiri. Pandangan hidupnya sudah amat ke barat-baratan, hingga norma ketimuran hampir tidak dikenalinya lagi. Itu penilaian sebagian orang dari karya-karyanya. Akan tetapi terlepas dari semua penilaian itu, karya NH Dini adalah karya yang dikagumi.
Buku-bukunya banyak dibaca kalangan cendekiawan dan jadi bahan pembicaraan sebagai karya sastra. Jika diurut dari segi bentuk dan isinya, maka Nh. Dini menduduki tempat teratas dengan novel-novel yang menyuarakan hati wanita yang peka, lembut, dan sederhana, tetapi didasari oleh kepribadian dan harga diri yang kuat.
Keberanian NH Dini dalam mengeksploitasi berbagai hal yang selama ini hanya dipendam di wilayah tertutup telah memberikan wacana baru dalam dunia sastra Indonesia bahwa menyepelekan perempuan pengarang atas karya-karyanya adalah sebuah kesalahan besar. Sepanjang karirnya sebagai penulis, Nh. Dini telah memperkuat realisme, merintis ideologi anti-patriarki, dan mendalami novel autobiografis, dalam sastra berbahasa Indonesia. Sastra ”realisme fotografis”-nya kaya dengan detail.
Pencapaiannya menonjol dalam menggali dunia perempuan, termasuk seksualitas tersembunyi, khususnya perempuan Jawa. Novel-novelnya menjadi induk dari novel-novel populer yang ditulis pengarang perempuan, juga menjadi pendahulu bagi karya sejumlah penulis perempuan yang sejak akhir 1990-an mendorong lebih jauh lagi feminisme ke arah pengungkapan seks dan seksualitas.
Novel-novel otobiografisnya sanggup melebur antara kenyataan faktual dan kenyataan fiksional dengan baik. Dalam sastra Indonesia, dunia perempuan sebelumnya hampir selalu dilukiskan oleh pengarang laki-laki. Tetapi Dini merebut itu semua dan menegaskan bahwa perempuan hanya bisa tampil wajar dalam fiksi jika dikisahkan oleh perempuan sendiri.
Perempuan memiliki suaranya sendiri yang bukan lagi pemalsuan dari suara laki-laki. Dalam novel autobiografis riwayat hidup si pengarang menjadi bahan utama pengisahan. Tetapi hanya pengarang yang cemerlang seperti Dinilah yang sanggup melebur antara kenyataan faktual dan kenyataan fiksional dengan amat baiknya.
Beda Dini dari para penerusnya adalah novel-novelnya hadir dengan kualitas bahasa yang tetap terjaga. Kalimat-kalimatnya kokoh, pelukisannya tentang sesuatu tampak halus, kadang samar-samar, sehingga memberikan kesempatan kepada pembaca untuk menerka-nerka.


Komentar
Posting Komentar