Merangkai Sejarah Menjadi Cerita: Leila S. Chudori
Dalam dunia kesusastraan, khususnya pasca tahun 2000,
jelas tidak asing lagi bila disebutkan nama Leila S. Chudori. Nama lengkapnya
adalah Leila Salikha Chudori. Ia adalah seorang penulis wanita kelahiran
Jakarta, 12 Desember 1962. Dalam Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa,
dikatakan bahwa Leila adalah anak dari Mohammad Chudori, seorang wartawan yang
bekerja di Lembaga Kantor Berita Nasional Antara
dan surat kabar the Jakarta Post.
Sudah 40 tahun lebih nama Leila terjun dalam dunia literatur Indonesia.
Beberapa media menyebut Leila S. Chudori sebagai anak emas sastra Indonesia
(Risangdaru, K., 2020). Namanya melejit setelah kesuksesan novelnya yang
berjudul Pulang dan belum lama ini ia
menulis novel Laut Bercerita yang
kembali berhasil menjadi perbincangan hangat di kalangan pecinta sastra.
Leila mengawali
perjalanannya di dunia literatur Indonesia sejak usia 12 tahun (Risangdaru, K.,
2020). Kala itu, karyanya banyak dimuat dalam majalah anak-anak. Cerpen
pertamanya berjudul Pesan Sebatang Pohon
Pisang dimuat dalam majalah Si
Kuncung (1973). Kemudian cerpen-cerpen selanjutnya juga dimuat dalam
sejumlah majalah semi remaja seperti majalah Kawanku, Gadis, dan Hai. Menginjak usia remaja, Leila sudah
berhasil menulis buku kumpulan cerita pendek yang berjudul Sebuah Kejutan, Empat Pemuda
Kecil, dan Seputih Hati Andra.
Semenjak itu, Leila semakin antusias untuk melahirkan karya-karya lainnya.
Menilik latar
belakang pendidikannya, Leila pernah menempuh pendidikan di Lester B. Pearson
College of the Pacific, Victoria, Kanada, melalui program beasiswa. Ia kemudian
melanjutkan studinya di Universitas Trent, Kanada, dengan mengambil program
studi Political Science dan Comparative Development Studies. Menurut
Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa, selama masa studinya itu, Leila telah
menulis sejumlah karya fiksi berupa cerpen yang dimuat dalam berbagai majalah
dan surat kabar seperti majalah Horison,
Zaman, dan Matra serta surat kabar Kompas
dan Sinar Harapan. Selain itu,
tulisan Leila juga telah dimuat dalam jurnal-jurnal sastra, baik jurnal dalam
negeri maupun luar negeri.
Cerpennya yang tersebar di berbagai media tersebut
kemudian disatukan menjadi sebuah buku dengan judul Malam Terakhir. Buku itu memuat sembilan judul cerita yakni Paris, Adila, Air Suci Sita, Sehelai Pakaian Hitam, Untuk Bapak, Keats, Ilona, Sepasang Mata Menatap Rain, dan Malam Terakhir. Menurut H.B. Jassin
(melalui Widagdo, H., 2020), buku Malam
Terakhir banyak menyajikan diksi-diksi baru serta pandangan-pandangan yang
baru. Cerita ditulis dengan bahasa yang intelektual sekaligus puitis dan
dituang dengan cara pengungkapan yang menarik.
Pada tahun 1989, setelah selesai dengan studinya di
Kanada, Leila memilih pulang ke Indonesia untuk mengikuti jejak ayahnya bekerja
sebagai wartawan (Prasetya, F.A., 2021). Leila mulai disibukkan dengan kegiatan
memburu dan menulis berita untuk majalah Tempo.
Pekerjaan yang dilakoninya itu ternyata secara sadis banyak menyita waktu dan
menguras tenaganya, sehingga dalam kurun waktu yang cukup lama Leila tidak lagi
menghasilkan karya-karya fiksi, alias nihil. Baru pada tahun 2009, karyanya
kembali muncul berupa buku kumpulan cerpen berjudul 9 dari Nadira.
Sesuai judulnya, buku 9
dari Nadira memuat sembilan judul cerpen yang diawali dari Mencari Seikat Seruni, Nina dan Nadira, Melukis Langit, Tasbih, Ciuman Terpanjang, Kirana, Sebilah Pisau, Utara Bayu, dan diakhiri dengan At Padder Bay. Menurut Badan
Pengembangan dan Pembinaan Bahasa, buku ini sering dianggap sebagai novel oleh
para kritikus sastra. Hal itu dikarenakan terdapat benang merah yang saling
menghubungkan antara sembilan cerita pendek di dalamnya, dimana kesembilan
cerpen tersebut esensinya sama-sama bercerita tentang perjalanan seorang tokoh
utama, Nadira. Buku ini kemudian mendapat penghargaan dari Badan Pengembangan
dan Pembinaan Bahasa pada tahun 2011.
Selang tiga tahun setelah peluncuran buku 9 dari Nadira, Leila kembali merilis
karya fiksi terbarunya. Kali ini karyanya hadir dalam bentuk novel berjudul Pulang, adalah sebuah karya yang
berhasil melambungkan popularitas Leila S. Chudori. Novel yang terbit tahun
2012 oleh Gramedia ini bercerita tentang keluarga, persahabatan, dan percintaan
yang dibalut dengan latar peristiwa sejarah. Digambarkan latar situasi politik
Indonesia yang kala itu sedang karut-marut pasca terjadinya pemberontakan
G30SPKI (1965). Novel setebal 552 halaman ini mengantarkan Leila meraih
penghargaan “Kusala Sastra Khatulistiwa” (2013) untuk kategori prosa.
Di tahun 2017, Leila merilis novel keduanya yang berjudul Laut Bercerita. Popularitas Leila
semakin mengudara karena novelnya kali ini sedang digandrungi dan dicari banyak
orang, bahkan telah diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris oleh penerbit Penguin
Random House (Agnes, Tia, 2020). Perilisan novel Laut Bercerita bertepatan dengan hari Hak Asasi Manusia yakni
tanggal 10 Desember (Wardhani, 2017). Pertimbangan tanggal perilisan itu
mungkin didasarkan pada isi novel yang banyak bercerita tentang HAM. Jika
sebelumnya novel Pulang dibalut
dengan latar peristiwa sejarah 1965, di novel kedua ini Leila membalutnya
dengan latar peristiwa sejarah sekitar tahun 1998.
Tahun 1998 menjadi tahun yang menandai keruntuhan rezim
orde baru di indonesia. Berbagai rentetan peristiwa berkedok politik yang
terjadi kala itu, telah melatarbelakangi lahirnya novel Laut Bercerita. Di tahun 2005, Leila mulai meramu outline dan
melakukan riset yang cukup lama untuk memperoleh detail informasi. Menurut
Leila (melalui Agnes, 2018), ia menggali informasi dari sejumlah alumni aktivis
’98 dan beberapa keluarga korban tragedi ’98. Dalam Laut Bercerita, Leila menghadirkan dua perspektif yang berbeda.
Satu menghadirkan sudut pandang aktivis yang menjadi korban penculikkan ketika
itu dan kedua sudut pandang dari salah satu anggota keluarga korban.
Bercerita tentang tragedi yang dialami oleh aktivis ’98,
Leila mengemas tulisannya dalam bentuk fiksi. Leila mengungkap bahwa ia tidak
mau novelnya terkesan seperti cerita dokumenter yang terlalu berat untuk dibaca
masyarakat umum, sehingga ia lebih memilih untuk mengemasnya secara fiktif
(Wardhani, 2017). Meski begitu, tetap ada beberapa bagian dari novel ini yang
memang diambil dari kisah nyata para aktivis pra-reformasi. Mungkin kita sudah
sering membaca atau mendengar tentang kronologi dahsyatnya gejolak dan
perjuangan yang dilakukan aktivis ’98, untuk itu Laut Bercerita hadir dengan mengambil sisi lain yang lebih mendalam
untuk didiskusikan yaitu kemanusian.
Di tahun 2020 lalu, Leila menjadi perwakilan dari
Indonesia yang meraih penghargaan sastra Asia Tenggara atau “Southeast Asian
Writers Award” atas novelnya Laut
Bercerita (Hanina, 2020). Tentunya itu menjadi hal yang pantas mengingat
segudang apresiasi yang membanjiri karya fenomenal tersebut. Apresiasi yang
tidak hanya datang dari para kritikus sastra, tetapi juga dari berbagai
kalangan termasuk kaum muda. Tidak pernah terpikirkan di benak Leila bahwa
novel ini akan banyak digandrungi kaum muda. Pasalnya, ketika menulis Leila
tidak pernah memikirkan pemetakan perihal untuk anak muda atau dewasa
(Risangdaru, K., 2020).
Tulisan-tulisan Leila S. Chudori memang tidak bisa lepas dari hal-hal berbau sejarah dan politik (Agnes, 2018). Mungkin karena latar belakangnya yang meniti profesi sebagai wartawan adalah salah satu alasan logis. Profesi itu juga menuntut Leila untuk menggali hal-hal yang selama ini kurang mendapat perhatian khusus. Untuk itu, Leila mencoba menulisnya ke dalam bentuk karya sastra, dimana ia bisa lebih leluasa untuk mengutarakan banyak hal, terutama yang beraroma kritik.
Tentang bagaimana Leila menulis, terkadang ia membutuhkan kesunyian dan ketenangan untuk dapat menuang ide-ide apiknya ke dalam tulisan. Namun, ada pula saat tertentu di mana ia memerlukan bunyi-bunyian seperti musik untuk menemaninya menulis (Nafi, 2014). Leila identik dengan tulisan-tulisan yang menyajikan fikrah atau sisi pandang baru. Mungkin itu yang menjadikan karya-karyanya berhasil mencuri banyak atensi dari berbagai kalangan dan kemudian membuatnya bertengger dalam jajaran novelis fenomenal di era pasca tahun 2000.


Komentar
Posting Komentar