Menulis Kisah Hidup: Arafat Nur
Arafat Nur, sastrawan Indonesia kelahiran tanah Aceh,
22 Desember 1974. Kini ia berusia 47 tahun, anak sulung dari lima bersaudara
ini harus menjalani semacam kisah pilu dalam kehidupannya sebelum terjun ke
dunia kepenulisan. Bagaimana tidak? Ia tumbuh dan besar di tengah gejolak
politik dan konflik yang terjadi di Aceh sekitar tahun 1999 silam. Bagai
bermain petak umpet, ia harus bersembunyi dan kejar-kejaran dengan sejumlah
anggota kelompok yang mencurigainya sebagai mata-mata hanya karena tulisannya
pernah dimuat di surat kabar.
Dalam situasi perang yang sangat tidak kondusif ini,
ia berusaha menamatkan pendidikannya di tingkat SLTA. Ayahnya jatuh sakit,
sedangkan ibunya meninggal setelah kelelahan menghindari perang yang kerap kali
terjadi secara tiba-tiba. Pernah ia tertangkap, diculik, dan sempat diancam
oleh kelompok tertentu sebab tulisannya yang muncul di surat kabar terlalu
menyoroti aksi kelompok tersebut. Belajar dari pengalamannya yang pahit, ia
mulai belajar menuliskan kisahnya dalam sebuah novel.
Novel pertamanya terbit pada tahun 2011 dengan judul Lampuki.
Novel ini berlatar belakang polemik yang terjadi pada dirinya sewaktu ia
berjuang untuk menghadapi konflik-konflik yang hampir merenggut nyawanya.
Peristiwa-peristiwa yang telah ia alami ternyata memberinya sebuah dorongan
untuk menulis serta bahan yang pantas untuk ia abadikan melalui sebuah karya
sastra. Masa muda yang penuh dengan kengerian dan membutuhkan usaha untuk
benar-benar mempertahankan hidup, mendororongnya terjun dalam dunia kepenulisan
dan mengawali kariernya sebagai seorang penulis.Novel ini meraih dua
penghargaan bergensi tingkat nasional, yakni Sayembara Dewan Kesenian Jakarta
2010 dan penghargaan Khatulistiwa Literary Award (Bakri, 2014). Tak melulu
mendapat sambutan yang baik, novel ini juga mendapat penolakan dari kelompok
tertentu. Bahkan ia pernah mendapat teror dari kelompok tidak dikenal.
Empat tahun berikutnya, novel keduanya terbit dengan
judul Burung Terbang di Kelam Malam. Novel ini sempat diterbitkan dalam
bahasa Inggris dengan judul A Bird Flies in the Dark of Night (Nur,
Arafat, 2020). Setahun kemudian, ia menerbitkan novelnya yang berjudul Tempat
Paling Sunyi. Pada tahun 2016, ia mulai aktif menulis novel, Tanah Surga
Merah adalah novelnya yang ketiga. Sedangkan Bayangan Suram Pelangi
adalah novel terbarunya yang rencananya akan terbit langsung dengan bahasa
Inggris di Amerika.
Selain beberapa novel di atas, ia juga menerbitkan
beberapa buku, diantaranya, Cinta Mahasunyi (2005), Meutia Ion Sayang
(2005), Romansa Taman Cinta (2007), Cinta Bidadari (2007), Seumpama
Matahari (2017), Bulan Kertas (2017), Percikan Darah di Bunga
(2017), Keajaiban Paling Indah di Dunia (2017), Serdadu dari Neraka
(2019), Blood Moon Over Aceh (2019), Kawin Matin di Negeri Anjing
(2020), Dunia Kecil yang Riuh (2021) dan masih ada beberapa lainnya.
Selain berkecimpung di dunia kepenulisan, Arafat Nur juga merupakan seorang
dosen Bahasa dan Sastra di STKIP PGRI Ponorogo.
Meninjau kariernya
yang sukses di bidang kepenulisan, Arafat Nur memperoleh beberapa penghargaan
untuk karya-karya sastranya, antara lain:
o
Cerpen
Ritus Makam, Penghargaan terbaik
lomba penulisan cerpen Taman Budaya Aceh (1999);
- Novel
Percikan Darah di Bunga, Juara III
Nasional lomba penulisan novel Forum Lingkar Pena (2005);
- Cerpen
Jadi Ibu, Juara III Lomba Cerpen
Hari Kartini (2005);
- Novel
Ciuman di Suatu Senja, Juara III
Lomba Novel Do Karim (2008);
- Artikel
tentang Desa, Juara I Lomba Penulisan Tentang Desa (2008);
- Novel
Lampuki menjadi Pemenang
Sayembara Novel Dewan Kesenian Jakarta 2010;
- Novel
Lampuki meraih “Khatulistiwa
Literary Award” tahun 2011;
- Penghargaan
Balai Bahasa Provinsi Aceh (2011);
- Novel
Bayang Suram Pelangi, sebagai nominasi
Sayembara Novel DKJ (2016);
- Cerpen
Seharum dan Setabah Kenanga,
nominasi Sayembara Lomba Cerpen Femina (2016);
- Cerpen
Dia Masih Bisa Tergelak, Juara
II Sayembara Lomba Cerpen Femina (2016);
- Novel
Tanah Surga Merah,
Unggulan Sayembara Novel DKJ, (2016);
- Penghargaan
Lencana Emas Dari Pemerintah Aceh (2016);
- Novel
Tanah Surga Merah, terpilih 10
besar “Kusala Sastra Khatulistiwa” (2017);
- Cerpen
Rahasia Jodoh, Juara III lomba
Cerpen bertema Pariwisata oleh Dinas Pariwisata Aceh (2017);
- Novel
Kawi Matin di Negeri Anjing,
Juara II Sayembara Novel Basabasi, (2020);
- Cerpen
Penyair Kamto Jatuh Cinta,
sebagai cerpen pilihan Sayembara Cerpen Cinta Rasul (2020);
- Puisi
Liang Kelam Kesunyian, Juara II
Lomba Puisi Azizah Publishing (2020);
- Cerpen
Kopi Korona Ayah Banta, Terbaik
IV Lomba Penulisan Cerpen tentang Korona oleh Dinas Pariwisata Aceh
(2020);
- Novel
Lolong Anjing di Bulan, nominasi
penghargaan Kemendikbud (2020);
- Novel
Kawi Matin di Negeri Anjing,
terpilih sebagai 5 besar “Kusala Sastra Khatulistiwa” (2020)
- Kumpulan cerpen Serdadu dari Neraka, terpilih sebagai 5 Buku Terbaik Tempo (2021);
- Novel Dunia Kecil yang Riuh, sebagai buku terbaik tentang Nabi Muhammad SAW oleh penerbit Diva Press (2021)


Komentar
Posting Komentar