Menulis Bingkai Feminisme: Oka Rusmini

Ida Ayu Oka Rusmini, lahir di Jakarta, 11 Juli 1967. Ia memiliki orang tua yang berlatar belakang sebagai tentara. Pengarang yang akrab disapa Oka Rusmini ini lahir dari padangan Ida Ayu Made Wardhi dan Ida Bagus Made Gede, keduanya berasal dari Bali. Oka menamatkan pendidikan dasar dan menengahnya di Jakarta, sebelum akhirnya ia pindah dan menetap di Bali. Ia menganyam bangku kuliah di Jurusan Sastra Indonesia, Fakultas Sastra, Universitas Udayana. Oka menikah sesama sastrawan juga, seorang penyair bernama Arif Bagus Prasetyo. Mereka dikaruniani seorang anak yang bernama Pasha Renaisan (Tim IndoSastra, 2018).

Bakat menulis yang dimilikinya, sudah terlihat sejak masih duduk di bangku sekolah. Ia aktif dalam kegiatan sastra di bawah naungan Sanggar Cipta Budaya, yang dikelola oleh seorang penyair bernama GM Sukawidana, guru sekolahnya sewaktu itu (Tim IndoSastra, 2018). Bahkan novelnya yang berjudul Kenanga, ia tulis sewaktu duduk di bangku sekolah. Sejak itu, ia mulai mengirimkan beberapa tulisannya ke surat kabar. Beberapa cerpen dan cerbungnya sering dimuat di harian Bali Post.

Oka Rusmini terkenal sebagai penulis yang banyak menyuarakan perempuan dalam setiap novelnya. Ia hidup di lingkungan Bali yang sangat ketat akan sisitem kelas sosial. Sudah bukan agaknya lagi, ia sangat menonjolkan perempuan yang seringkali tidak mendapat perlakuan yang adil dan hidup di bawah dominasi patriarkis.

Karya-karyanya terkesan mendobrak polemik adat dan istiadat Bali yang sangat kental dengan sistem kasta dan dominasi patriarkisnya. Ia dinilai sebagai penulis yang “memberontak” terhadap gender. Hal ini sangat jelas tergambar dalam novel Tarian Bumi (2000) dan Kenanga (2003). Keduanya sama-sama menceritakan tentang kuatnya sistem kasta dan dominasi kaum lelaki terhadap perempuan-perempuan Bali.

Tidak mendapat dukungan moral, Oka justru mendapatkan pertentangan dari pihak keluarga dan teman-temanya saat ia aktif menulis. Meskipun ia mendapat penolakan dari keluarga dan kawan-kawannya, ia tetap aktif menulis dan menerbitkan banyak sekali karya-karya sastra, diantaranya Tarian Bumi (2000), Sagra (2001), Kenanga (2003), Warna Kita: Seratus Puisi (2007), Kundangdya (2009), Tempurung (2010), Akar Pule (2012), Saiban (2014), Men Coblong (2019), serta ada beberapa cerita pendek lainnya. Di samping menjadi penulis, ia juga bekerja di harian Bali Post sejak tahun 1992. 

Karya-karyanya banyak memperoleh penghargaan. Cerita pendeknya, Putu Menolong Tuhan, terpilih sebagai cerpen terbaik majalah Femina 1994. Noveletnya, Sagra, memenangi cerita bersambung terbaik majalah Femina, 1998. Cerita pendeknya yang berjudul Pemahat Abad  terpilih sebagai cerpen terbaik 1990—2000 majalah Sastra Horison. Tahun 2002 ia menerima penghargaan puisi terbaik jurnal Puisi. Pusat Bahasa, Departemen Pendidikan Nasional Indonesia, memilihnya sebagai penerima penghargaan “Penulisan Karya Sastra 2003” atas novelnya Tarian Bumi. Novel ini telah diterjemahkan ke dalam bahasa Jerman dengan judul Erden Tanz (2000). 

Komentar

Postingan Populer