Menguak Tabir Puisi Jarak Karya Sapardi Djoko Damono

Judul Puisi : Jarak

Penulis : Sapardi Djoko Damono

Tahun Penulisan : 1968 


Sapardi Djoko Damono, lahir di di Solo, pada 20 Maret 1940 dan meninggal di Tangerang Selatan, pada 19 Juli 2020 di umur 80 tahun. Beliau adalah seorang sastrawan hebat, pujangga yang aktif berkarya di Indonesia dan berhasil membuat karya-karya sastra estetis serta sajak-sajak karyanya telah diterjemahkan ke berbagai bahasa dunia. Puisinya yang berjudul Jarak, merupakan puisi yang terdapat dalam buku antologi cerpen beliau berjudul Dukamu Abadi terbit tahun 1969. Buku Dukamu Abadi adalah kumpulan sajak pertama dari Sapardi Djoko Damono, dimana sajak-sajak tersebut dibuatnya dari tahun 1967 sampai tahun 1968. Buku ini menjadi awal karir beliau di kancah dunia sastra Indonesia.

Jarak

dan Adam turun di hutan-hutan

mengabur dalam dongengan

dan kita tiba-tiba disini

tengadah di langit; kosong sepi

Jarak karya Sapardi Djoko Damono bermakna bahwa manusia terkadang lupa dengan tujuan hidupnya sebagai manusia secara agamis yaitu untuk menjaga bumi, berbuat kebajikan, dan menyembah Allah swt.. Hal ini dapat ditafsirkan melalui kalimat di baris terakhir “tengadah di langit; kosong sepi” yang menurut saya manusia sekarang melihat ke langit, yang mungkin maksudnya memandang surga, dengan pandangan kosong, hampa, dan sepi tanpa ada rasa takut akan penyimpangan yang telah ia lakukan semasa hidupnya di bumi. Penyimpangan tersebut mengakibatkan munculnya jarak diantara kita sebagai manusia dengan Allah swt.. Hal mengenai penyimpangan tujuan manusia turun ke bumi pun semakin dikuatkan dari baris kedua puisi yang berbunyi “(Adam) mengabur dalam dongengan” yang berarti bahwa nabi Adam sebagai manusia pertama di bumi dan tentu dalam puisi ini mungkin menyimbolkan tujuan utama manusia diturunkan di bumi semakin kabur atau pudar dan hanya dianggap sebagai cerita bohong oleh manusia sekarang. Subjek manusia sekarang dibuktikan dari baris ketiga yang berbunyi “dan kita tiba-tiba disini”, yang berarti bahwa waktu berjalan dengan cepat dan subjek “kita” merujuk ke manusia zaman sekarang yang sudah mengalami penyimpangan dari tujuan utama manusia diturunkan ke bumi oleh Allah swt.

Unsur Intrinsik

  1. Jenis puisi Jarak termasuk ke dalam puisi modern karena memiliki struktur yang lebih bebas bila dibandingkan dengan puisi lama, tetapi masih memiliki aturan struktur yang lebih normatif.

  2. Bunyi, persajakan berdasarkan posisi atau letaknya termasuk sajak akhir a-a-b-b, yaitu pada kata ‘hutan-dongengan’ (baris satu dan dua) dan ‘disini-sepi’ (baris ketiga dan keempat). Kemudian, persajakan berdasarkan bunyinya termasuk sajak paruh (hutan-dongengan dan disini-sepi) dan sajak mutlak (terdapat di awal kalimat baris kedua dan ketiga, yaitu kata dan). Terakhir, persajakan berdasarkan hubungan antarbarisnya termasuk sajak berangkai a-a-b-b.

  3. Diksi, puisi ini mengandung diksi-diksi alam, seperti ‘hutan-hutan’ dan ‘langit’. Penulis juga menyinggung salah satu nabi di agama Islam di puisinya sehingga menimbulkan kesan agamis ketika membaca puisi di atas.

  4. Citraan, kata ‘turun’ menunjukkan citra kinestetik, lalu kata ‘mengabur’ dan ‘tengadah’ menunjukkan citra visual.      

  5. Bahasa kias, diksi ‘langit’ mengisyaratkan adanya metonimi dimana diksi tersebut merepresentasikan surga yang berada di atas langit bagi pembaca.

  6. Wujud visual, puisi ini terdiri dari 1 bait dan 4 baris dengan tipografi lurus berbaris ke bawah sebagaimana puisi pada umumnya.

        Kesimpulan dari puisi Jarak karya Sapardi Djoko Damono ini adalah mengingatkan para pembaca untuk selalu mengingat tujuan utama kita hidup di dunia ini, dengan diturunkannya nabi Adam ke bumi, bahwa kita sebagai manusia harus menjaga bumi, senantiasa berbuat kebajikan, dan selalu menyembah Allah swt. serta melaksanakan perintah-Nya dan tidak melakukan larangan-Nya. Beliau telah menuliskan puisi ini dengan bahasa yang halus dan ringan untuk dibaca seperti puisi beliau pada umumnya sehingga puisi tidak bersifat menggurui bagi pembaca dan mudah dimaknai juga oleh para pembaca puisi beliau. Sapardi Djoko Damono untuk kesekiankalinya berhasil membuat karya sastra yang selain bernilai estetis juga banyak pelajaran serta pengalaman yang dapat diambil ketika dibaca dan dimaknai oleh para pembacanya.

Komentar

Postingan Populer