Manusia Bebas Karya Suwarsih Djojopuspito
Judul : Manusia Bebas
Penulis : Suwarsih Djojopuspito
Tahun : 1975
Penerbit: Djembatan, Jakarta
Dalam novel ini, Sudarmo dan Sulastri diceritakan sebagai sepasang suami istri yang tinggal di Bandung dan memiliki dua orang anak. Sudarmo bekerja sebagai seorang direktur Sekolah Perguruan Kebangsaan yang terdiri atas HIS (Sekolah Dasar) dan MULO (Sekolah Lanjutan Tingkat Pertama), dengan jumlah guru lima belas orang. Untuk meringankan beban suaminya, Sulastri juga membantu sebagai guru. Sudarmo memiliki hubungan baik dengan Sukarno dan istrinya Zus Inggit.
Sebagai seorang guru, Sudarmo sangat tekun, rajin dan kreatif. Untuk membantu kemajuan pendidikan, Sudarmo menerbitkan majalah dan surat kabar. Perjuangan Sudarmo diceritakan dalam novel ini memperoleh hambatan: (1) adanya persaingan dengan Sekolah Partai Kebangsaan dan (2) adanya penggeledahan sekaligus pelarangan untuk melakukan kegiatan yang dilakukan oleh Politieke Inlichtingen Dienst (PID).
Kemudian, dalam novel ini diceritakan bahwa Sudarmo dan keluarganya pindah ke Yogyakarta. Di Yogyakarta, Sudarmo menerbitkan majalah Penghidoepan Rakjat, tetapi Sudarmo gagal. Setelah gagal di Yogyakarta, Sudarmo dan keluarganya pindah ke Jakarta, kemudian ke Semarang, Surabaya, dan kembali lagi ke Yogyakarta, tetapi kemudian pindah kembali ke Bogor dan akhirnya kembali lagi ke Bandung tempat domisili awal mereka.
Pada saat tinggal di Yogyakarta dan Bandung, Sulastri menulis novel dalam bahasa Sunda. Setelah selesai novel itu diserahkan kepada ahli sastra Sunda, kemudian dilanjutkan ke Balai Pustaka dengan harapan dapat diterbitkan. Tulisan Sulastri ternyata ditolak oleh Balai Pustaka dan penolakan ini membuat Sulastri dan suaminya bersedih. Meskipun demikian Sulastri berjanji akan menulis kembali.
Novel yang ditulis oleh Sulastri sebagaimana yang diceritakan dalam novel Manusia Bebas adalah novel Manusia Bebas itu sendiri dengan penulisnya Suwarsih yang diilustrasikan sebagai Sulastri dalam novel. Naskah “Manusia Bebas” semula ditulis Suwarsih dalam bahasa Sunda tahun 1937. Namun, ketika diserahkan ke Penerbit Balai Pustaka, naskah itu ditolak untuk diterbitkan dengan alasan Suwarsih tidak mengandung unsur-unsur pendidikan, pengajaran dan tradisi seperti yang dikehendaki oleh pemerimtah kolonial yang diisyaratkan melalui Commissie voor de Inlandsche School en Volkslectuur (Komisi Bacaan Rakyat dan Pendidikan Pribumi).
Selain itu, alasan penolakan Penerbit Balai Pustaka juga dikarenakan karya Suwarsih sarat dengan politik dan isu kemerdekaan pada umumnya, seperti diisyaratkan melalui pendidikan sekolah swasta (sekolah liar) dalam novel ini. Baru pada tahun 1940, Manusia Bebas terbit pertama sekali dalam bahasa Belanda. Kemudian, atas dorongan dari berbagai pihak agar dapat dibaca dan dipahami oleh masyarakat Indonesia dan bantuan finansial dari Manisterie van Cultuur, Recreatie en Maatschappelijk Werk, ”Manusia Bebas” diterjemahkan oleh penulisnya ke dalam bahasa Indonesia dan diterbitkan pada tahun 1975.
Mengenai Penulis
Suwarsih Djojopuspito, lahir di Cibatok, Bogor, 21 April 1912 dan meninggal di Yogyakarta, 24 Agustus 1977 pada umur 65 tahun. Dia seorang penulis wanita Indonesia (suku Sunda) yang menulis novel dalam 3 bahasa: Sunda, Belanda, dan Indonesia. Anak ketiga Raden Bagoes Noersaid Djojosapoetro dan Hatidjah
Pada tanggal 14 Agustus 2013 Pemerintah menganugerahkan Tanda Kehormatan Bintang Budaya Parama Dharma kepada beliau yang diwakilkan oleh ahli warisnya di Istana Negara oleh Presiden Susilo Bambang Yudhoyono dalam rangka HUT Proklamasi Kemerdekaan Indonesia ke-68.
Menikah dengan Sugondo Djojopuspito (1933) yang memimpin Kongres Pemuda tahun 1928, dikaruniai tiga orang anak: Sunartini Djanan Chudori, SH (almarhum, lahir Bandung 1935 - wafat Yogyakarta 1996), Sunarindrati Tjahyono, SH, (lahir Yogyakarta 22 Februari 1937, tanggal kelahiran sama dengan bapaknya), Ir. Sunaryo Joyopuspito, M.Eng., (lahir Bandung 1939).
Posisi Buku dan Sejarahnya
Kehidupan penulis yang mulai dari masa Kebangkitan Nasional, Pendudukan Jepang, Revolusi Fisik sampai masa Kemerdekaan setelah RIS yang sulit dibuktikan dengan selalu berpindah tempat tinggal, mendapat perlawanan dari pemerintah kolonial terkait, terutama tentang masalah pengajaran dan pendidikan. Pengalaman yang tak tenteram terutama di antara tahun 1933—1937 itulah yang kemudian ia tuliskan dalam Manusia Bebas. Atau lebih tepat, dalam versi pertamanya, dalam bahasa Belanda, Buiten het Gareel (“Di Luar Kekang”).
Dengan catatan: itu sebenarnya bukan novel pertamanya. Soewarsih pernah menulis sebuah novel berbahasa Sunda, tentang seorang perempuan muda yang tak bahagia dalam pernikahannya. Ia kirim naskahnya ke Balai Poestaka. Tapi ditolak. Balai Poestaka, yang didirikan pemerintah kolonial, menganggap karya itu tak cukup “mendidik”. Ketika kemudian Soewarsih menulis Buiten het Gareel, ia tak bermaksud “mendidik”.
Karya ini tak bisa dipisahkan dari E. du Perron. Sastrawan Belanda ini, yang lahir di Jatinegara pada 1899, mengunjungi tanah kelahirannya ketika umurnya 39. Selama sekitar setahun tinggal di Indonesia, penyair-penulis yang sudah terkenal dengan sebuah novel semi otobiografis Het land van herkomst (“Negeri Asal Usul”) itu bergaul akrab dengan kalangan intelektual Indonesia dan Belanda yang progresif. Ia ikut jadi redaksi Kritiek en Opbouw, sebuah berkala anti-kolonial yang didirikan di Bandung oleh seorang sosialis-demokrat, D.M.G. Koch, di tahun 1938 itu. Ketika Syahrir hidup di pembuangan, Du Perron menulis surat kepadanya, menyatakan betapa ia, yang berdarah campuran, merasa diterima dengan pas ketika berada di tengah orang Indonesia.
Di situlah Du Perron berkenalan dengan Soewarsih dan Soegondo. Ia mendorong Soewarsih menulis dalam bahasa Belanda. Ia kemudian membawa naskahnya ketika ia kembali ke Nederland untuk diterbitkan di Utrecht pada 1940. Dengan itu Du Perron membuktikan harapannya: dalam bahasa Belanda, Soewarsih bisa membayangkan sedang bicara kepada pembaca yang asing, yang tak membuatnya rikuh bila menyebutkan hal-hal yang dirasa aib atau menyinggung perasaan.
Novelnya berbicara akrab, jujur, bisa ironis, tak dibebani pesan-pesan. Pada Buiten het Gareel, Du Perron melihat, berbeda dari karya sastra yang mengambil tema utama zaman itu—perjuangan nasional, emansipasi perempuan—novel Soewarsih menggeluti hal-hal itu sebagai “pertanyaan-pertanyaan kehidupan”. Dalam kata pengantarnya untuk Buiten het Gareel, Du Perron menunjukkan bahwa “elemen politik” dalam novel itu sesuatu yang aksidental (bijkomstig). Elemen itu ada hanya karena dalam diri siapa pun penulis Indonesia di masa Soewarsih, intensnya kesadaran politik “tak bisa dihindarkan.”
Dengan kata lain, novel Soewarsih membuktikan, kesusastraan bukanlah bangunan ide yang mengarah. Kesusastraan adalah imajinasi yang berangkat dari dan di dalam pengalaman antar manusia.
C.W. Watson, penelaah sastra Indonesia dan guru besar emeritus antropologi sosial dari University of Kent (kini mengajar di ITB), dalam analisanya tentang Buiten het Gareel. Novel ini, tulis Watson, memang menggambarkan kekuasaan kolonial dan dampaknya yang menekan. Tapi ia bukan sebuah teks dokumenter. Di atas segalanya, ini novel tentang “utamanya hubungan-hubungan antar personal”—meskipun kita paham bahwa hubungan-hubungan itu selalu dikonstruksi dalam konteks sebuah pergulatan politik mengenai nilai-nilai, “the context of a politics of culture”.
Itu sebabnya tokoh-tokoh dalam novel Soewarsih ini orang-orang yang tetap unik di tengah sejarah yang menerpa siapa saja. Unik, artinya tak bisa diulangi. Soewarsih tak menulis sebuah novel sejarah; ia tak berlaku sebagai seorang bapak yang hendak mewariskan sesuatu kepada generasi anaknya. Seperti dikemukakan kembali oleh Aquarini Priyatna, dengan mengutip Manusia Bebas (versi Indonesia Buiten het Gareel yang terbit tahun 1959), Suwarsih mendokumentasikan hidupnya dengan menuliskan “hal-hal yang sepele dan cetek-cetek”.
Kontribusi Pengarang
Pengarang adalah seorang yang berpindah-pindah karena alasan kondisi dan situasi. Menjadi pengajar sejak tahun 1932 di Purwakarta, di Bandung menjadi guru di Perguruan Tamansiswa Bandung, dan aktif dalam Perkoempoelan Perempoean Soenda sebagai anggota, tahun 1936 pindah ke Semarang mencari pekerjaan ikut suami yang diterima bekerja sebagai guru Tamansiswa Semarang, dan Suwarsih bekerja di sekolah Drs. Sigit.
Kemudian tahun 1938 pindah ke Bandung dan mengajar di Pergoeroean Soenda, tahun 1940 guru di GOSVO (Gouvernement Opleiding School voor Vak Onderwijzeressen Paser Baroe Batavia - Sekolah Guru Kepandaian Putri Negeri Pasar Baru Batavia - sekarang SMKN 27 Pasar Baru), sebagai guru pada Sekolah Dasar Dai-ichi Menteng pada jaman penjajahan Jepang, dan tahun 1951 ia menjadi guru SGKP Lempuyangan Yogyakarta, kemudian berhenti menjadi guru tahun 1953.
Pengaruh Buku
Sudah hampir empat puluh tahun yang lalu “Buiten het Gareel” itu saya tulis dalam bahasa Belanda, bahasa yang paling baik yang saya kuasai dan pahami di waktu itu, dan juga bahasa yang dimengerti oleh orang-orang terpelajar di seluruh Indonesia. Sekarang ini orang bahasa Indonesia yang mengerti bahasa Belanda sudah sangat menipis jumlahnya, apa pula para pemudanya. Siapa pula orang Indonesia yang ingin membaca “Buiten het Gareel” kecuali beberapa orang mahasiswa sejarah Indonesia?
Dengan demikian maksud saya dulu itu, yaitu mengajak pemuda seumur saya supaya bertabah hati dalam perjuangannya mencapai kemerdekaan Indonesia, tidak menemui sasarannya lagi. Memang sekarang tujuan saya itu sudah tidak perlu lagi, karena Indonesia sudah merdeka. Tetapi saya ingin juga buku saya “Buiten het Gareel” dibaca oleh pemuda zaman sekarang sebagai karya sastra.
Pada awal bulan Maret 1975 Suwarsih Djojopuspito menerima kabar dari Drs. G. Termorshuizen, bahwa buku beliau akan diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia. Dalam majalah Sastra bulan Januari 1969 juga H.B. Jassin sudah menganjurkan supaya buku Buiten het Gareel diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia. Sekitar tahun 1970-an Prof. Sartono dari Universitas Gadjah Mada menanyakan apakah mungkin (boleh) buku tersebut diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris oleh Benda, temannya.
Dari pernyataan dan keterangan di atas, dapat disimpulkan bahwa buku tersebut begitu menarik sampai-sampai ada permohonan penerjemahan dalam berbagai bahasa. Juga memiliki daya tarik tersendiri karena isi buku yang menceritakan perjuangan nasionalis dan emansipasi.


Komentar
Posting Komentar