Kehilangan Mestika Karya Hamidah

Hamidah adalah nama samaran dari Fatimah Hasan Delais. Ia berasal dari daerah Muntok, Bangka (sekarang Prov. Babel). Penggunaan nama samaran merupakan salah satu siasat penulis dalam "memasarkan" karyanya.

Meskipun tidak selamanya alasan penggunaan nama samaran seperti itu, yang jelas peluang menggunakan nama samaran tersebut melegakan hati kalangan penulis. Minimal, mereka dapat menyembunyikan identitas dirinya dari publik. Akan tetapi, kadangkala nama samaran seorang penulis itu lebih populer dari nama aslinya. Kesan seperti itu terlihat jelas pada pengarang Hamidah.

Ia menikah dengan seorang laki-laki bernama Hasan Delais dan meninggal di Palembang pada tanggal 8 Mei 1953 dalam usia sangat muda, 40 tahun. Hanya satu karyanya yang sudah dibukukan: Kehilangan Mestika (1935). Sajak-sajaknya disertakan Linus Suryadi AG dalam antologi Tonggak (1987) dan dalam Ungu: Antologi Puisi Wanita Penyair Indonesia.

Tidak banyak informasi yang dapat dikumpulkan tentang wanita pengarang yang berasal dari Sumatera Selatan ini. Namanya dikenal dalam khazanah sastra Indonesia karena karya yang berjudul Kehilangan Mestika. Novel ini ditulis Hamidah pada waktu masih berusia 19 tahun. Artinya, Hamidah masih dalam lingkungan sekolah atau masih duduk di bangku sekolah guru.

Kegemaran Hamidah terhadap sastra tampaknya didasari oleh kebersinggungannya dengan bacaan-bacaan. Perhatian yang tinggi terhadap kehidupan dikolaborasi dengan kreativitas menuangkannya dalam bentuk tulisan membuahkan sebuah karya yang dikenal pada zamannya.

Novel Kehilangan Mestika karya Hamidah diterbitkan pertama kali pada tahun 1935. Kemudian, novel ini dicetak ulang pada tahun 1937 (cetakan kedua), 1949 (cetakan ketiga), 1954 (cetakan keempat), 1957 (cetaka kelima), dan 1963 (cetakan keenam). Pada cetakan kelima dan keenam, novel Kehilangan Mestika dicetak ulang sebanyak 10.000 eksemplar.

Cetakan keempat habis dalam waktu satu tahun, sedangkan cetakan keenam habis dalam waktu dua tahun. Berdasarkan kenyataan seperti itu, H.B. Jassin berpendapat bahwa novel karya Hamidah tersebut termasuk salah satu buku yang disukai kala itu.

Menjelang akhir hayatnya, Hamidah berniat untuk menghadirkan karya novel lagi ke dalam belantara khazanah sastra Indoesia. Akan tetapi, keinginannya itu ternyata hanya sebatas hasrat dari seorang penulis. Ia dipanggil menghadap Tuhan Yang Mahakuasa sebelum keinginan tersebut diwujudkannya.

Di Bangka Belitung masyarakat sendiri pada umumnya tidak lagi mengenal siapa sebenarnya sastrawati asal Muntok yang bernama asli Fatimah Hasan Delais itu. Apalagi untuk mengenal karyanya. Bahkan tidak banyak orang yang mengetahui, bahwa sebenarnya selain romannya yang terkenal, Kehilangan Mestika (1938), pengarang Angakatan Balai Pustaka itu juga seorang cerpenis dan penyair. Karya-karyanya yang berupa cerpen dan puisi boleh dikatakan hampir tidak bisa ditemui lagi. Upaya untuk menggali jejak Hamidah sendiri pun, seperti yang sedang dilakukan oleh penyair Ira Esmeralda hingga kini tidak pernah jelas bagaimana kabarnya.

Menurut suami Hamidah, Hasan Delais, ''Dalam suratnya kepada Balai Pustaka tanggal 2 Juni 1954, Kehilangan Mestika dikarang oleh Hamidah tatkala berumur 19 tahun. Mendiang sama sama hidupnya bermaksud membuat buku lagi tapi rupanya tak kesampaian,'' demikian Hasan Delais berkata.

''Karena di negeriku akulah pertama sekali membuka pintu pingitan gadis-gadis, maka bermacamlah cacian yang sampai ketelinga kaum keluargaku. Orang negeriku pada masa itu masih terlalu bodoh dan kuno. Tak tahu mereka membedakan yang mana dikatakan adat dan yang mana pula agama. Kebijakan dari pada adat yang diadatkan disangkakan mereka sebagian juga dari pada syarat agama. Gadis-gadis mesti dipingit, tak boleh kelihatan oleh orang yang bukan sekeluarga lebih-lebih oleh laki-laki. Adat inilah yang lebih dahulu mesti diperangi. Inilah yang kucita-citakan.'' Begitu yang disampaikan oleh Hamidah dalam suratnya.

Buku ini menceritakan seorang Hamidah diri pengarang sendiri yang membuka jalan bagi kaumnya di negerinya, Muntok. Kemudian ia dipindahkan ke Palembang. Dalam perjalanan kapal Muntok-Palembang, terjadilah ikatan sehidup semati dengan Ridhan. Hubungan itu tidak disetujui paman Ridhan, dan Hamidah menerima akibatnya kena tipu sehingga pekerjaanya pada gebernumen terlepas, dan Ridhan meninggal dunia.

Kembalilah ia ke Muntok dalam keadaan sakit rohani jasmani. Di Muntok ia aktif lagi. Ketika dua orang pemuda, Anwar dan Idrus mencintai sekaligus, ia telah memilih Idrus. Ia dan Idrus kemudian berusaha sehingga Anwar berjodoh dengan Rukiah. Dengan kematian ayahnya, nasib Hamidah menjadi berubah. Ia harus ikut saudaranya ke Jakarta. Karena taktik saudaranya itu, gagallah cita-citanya untuk hidup bersama dengan Idrus. Dikawinkanlah ia dengan Rusli, dengan susah payah, akhirnya Hamidah berhasil memindahkan cintanya pada Rusli. Tetapi bersama dengan keberhasilan itu, ia mesti kehilangan Rusli karena tidak mempunyai anak. 

Atas permintaan sendiri ia bercerai dengan Rusli, karena merasa tak ada lagi gunannya diikat tali perkawinan. Rusli telah berbahagia dengan istri muda dan anaknya. Pulanglah Hamidah ke Muntok dengan membawa keremukan hati tak terkira. Dirinya sudah tua hidup sendiri, terpisah dari yang dikasihi dan mengasihi, karena Idrus yang memilih tidak kawin setelah putus dengan Hamidah, baru saja meninggal.

Komentar

Postingan Populer