DUNIA SASTRA

Dewasa ini minat literasi masyarakat Indonesia sangat kurang, dan bisa dikatakan jauh tertinggal dari negara-negara lain. Literasi sangat penting bagi seorang manusia karena dengan literasi pengetahuan kita bisa lebih banyak dibanding dengan orang lain. Pada abad 21 ini pula literasi bisa dilakukan dengan berbagai cara, dan cara yang paling mudah adalah literasi digital. Dengan media digital kita dipermudah dalam melatih minat literasi dan hal tersebut dapat dilakukan dengan cara membaca karya sastra berupa novel atau kumpulan cerpen pada aplikasi-aplikasi tertentu atau dapat mencarinya dalam versi ebook. Berikut ini merupakan tokoh sastrawan dan karya sastra favorit saya yang mungkin dapat digunakan sebagai referensi untuk melatih minat literasi dewasa ini.

Sastrawan yang paling saya sukai adalah Tere Liye karena karya-karyanya yang sering kali menggunakan kisah nyata yang menjadi perhatian banyak orang, dan dari kriteria tersebut terdapat karya sastra yang paling saya sukai yaitu Hafalan Sholat Delisa. Saya sangat menyukai Tere Liye karena penggunaan kalimat yang pendek-pendek dalam novelnya, mudah dimengerti, dan juga karena sering menceritakan tentang kehidupan anak-anak. Masih dengan kriteria yang sama, penulis kedua yang saya sukai adalah Andrea Hirata. Penulis kelahiran 24 Oktober 1967 ini telah menulis banyak karya seperti Sang Pemimpi, Padang Bulan, dan Cinta dalam Gelas. Namun dari sekian banyak karyanya juga terdapat karya sastra kedua yang saya sukai yaitu novel Laskar Pelangi.  Hal yang membuat saya suka dengan karya-karya Andrea Hirata adalah karena ceritanya yang sederhana dan sering kali dikompilasikan dengan puisi-puisi yang membuat ceritanya lebih menarik.

Selanjutnya sastrawan yang saya sukai adalah N.H Dini, Ayu Utami, dan Djenar Maesa Ayu dengan kriteria penulisan karyanya yang feminis. Penulis N.H Dini lahir pada 29 Februari 1936 dan telah memiliki banyak karya seperti Pada Sebuah Kapal, Namaku Hiroko dan Pada Sebuah Hati. Karya-karyanya tersebut hampir semua bertokoh utamakan perempuan dan menceritakan persoalan serta perjalanan hidup seseorang sehingga saya menyukainya. Selanjutnya adalah Ayu Utami, penulis kelahiran 21 November 1968 ini juga memiliki karya yang tidak kalah banyak seperti Saman, Larung, dan Lalita. Saya suka dengan karyanya karena ceritanya yang ringan, lugas, dan juga dengan penyampaian yang cenderung santai sehingga seperti diajak berbincang dengan novel. Lalu ada Djenar Maesa Ayu seorang sastrawan feminis yang lahir pada 14 Januari 1973 dengan cerita Nayla, Mereka Bilang Saya Monyet, dan SAIA. Ceritanya yang memiliki karakter kuat pada setiap tokoh sehingga ceritanya lebih hidup.

Masih berhubungan dengan Ayu Utami dan kriterianya yang feminis, novel ketiga yang saya sukai merupakan novel karya beliau yang berjudul Saman. Novel tersebut merupakan novel pertama karya Ayu utami yang diterbitkan oleh Gramedia pada April 1998. Novel tersebut menceritakan tentang persahabatan perempuan dan juga menceritakan tentang tindakan besar untuk mengatasi masalah kemanusiaan dan keadilan yang sering terjadi pada masa itu. Novel Saman ini juga merupakan novel yang sangat diminati pada masa itu hingga diterjemahkan dalam delapan bahasa. Selain itu bahasa yang digunakan juga sangat indah, penuh dengan kiasan dan perumpamaan sehingga membuat para pembaca hanyut dalam ceritanya.

Sastrawan keenam yang saya sukai adalah Raditya Dika dengan kriteria kebanyakan ceritanya yang ditulis dengan nama-nama hewan. Penulis kelahiran 28 Desember 1984 ini telah memiliki banyak karya diantaranya Koala Kumal, Cinta Brontosaurus, dan juga Marmud Merah Jambu yang merupakan novel ke empat yang saya sukai, serta Manusia Setengah Salmon, merupakan novel kelima yang saya sukai. Ceritanya yang jenaka dan juga diangkat dari kisah cintanya yang tidak pernah beruntung membuat karyanya selalu asyik untuk dinikmati, dan juga ceritanya singkat, mudah dimengerti, serta alur yang tidak mudah untuk ditebak.

Sastrawan ketujuh yang saya sukai adalah Chairil Anwar dengan karyanya yang cenderung multi-interpretasi dan juga bertemakan pemberontakan. Beliau merupakan seorang penyair kelahiran 26 Juli 1922. Chairil Anwar telah membuat 96 karya, termasuk diantaranya 70 puisi. Diantara karya beliau, ada tiga karya yang sangat saya sukai yaitu Deru Campur Debu, Kerikil Tajam dan Yang Terampas dan Yang Putus, serta Aku Ini Binatang Jalang. Ketiga kumpulan sajak tersebut merupakan karya sastra ke enam, tujuh, dan delapan yang saya sukai. Karyanya yang cenderung menggebu-gebu sangat pas dengan keadaan saat itu, dan juga kata-kata yang ia susun sangat cantik sehingga membuat siapa saja yang membacanya jadi terhanyut dan langsung menyukai karya beliau.

Selanjutnya sastrawan yang saya sukai dengan kriteria penulis roman adalah Rintik Sedu yang memiliki nama asli Nadhifa Allya Tsana kelahiran 4 Mei 1998. Tsana sudah memiliki banyak karya roman yang menceritakan kisah cinta remaja dari masa SMA diantaranya Geez & Ann, Geez & Ann 2, Buku Rahasia Geez. Cerita dari Tsana ini sebenarnya tidak terlalu rumit, dan mungkin mudah ditebak, namun juga tidak basi sehingga para pembaca nyaman membacanya. Selanjutnya ada Lia Indra Andriana dan Ilana Tan dua penulis ini merupakan penulis spesialis roman yang selalu membuat penerbit menerbitkan ceritanya dan selalu memberikan yang terbaik untuk para pembaca, diantaranya karya Ilana Tan adalah Summer In Seoul, Autumn In Paris, Spring In London, dan Winter In Tokya, sedangkan karya Lia Indra Andriana yaitu SeoulMate, Khokkiri, dan Paper Romance. Penulis kesepuluh yang saya sukai dengan kriteria yang masih sama yaitu Ika Natassa seorang penulis kelahiran 25 Desember 1977 yang telah memiliki berbagai karya diantaranya Divortiare, Antologi Rasa, dan juga Critical Eleven yang berhasil difilmkan pada tahun 2017. Ika Natassa memiliki ciri khas yaitu dia membuat akun Twitter untuk para tokoh dalam novel yang ia buat, sehingga para tokoh dapat berkomunikasi dengan tokoh lain serta dengan penggemar yang dapat membuat si tokoh terlihat lebih hidup dan termasuk ciri yang disambut dengan hangat oleh para pembaca.

        Karya sastra ke sembilan yang saya sukai adalah Bumi Manusia karya Pramoedya Ananta Toer yang pertama kali diterbitkan pada 1980 dan menceritakan tentang kisah cinta minke seorang pribumi asli dengan Annelis seorang Indo. Saya menyukai novel ini karena ceritanya yang berlatar belakang pada awal periode kebangkitan nasional dan diceritakan dengan penggambaran yang sangat bagus sehingga pembaca bisa dengan otomatis membayangkan setting yang dibuat dalam novel tersebut. Selanjutnya novel kesepuluh yang saya sukai adalah novel Senja Hujan dan Cerita yang Telah Usai karya Boy Candra, novel ini berceritakan tentang cerita masa lalu si penulis hingga si penulis bangkit dan menjadikan cerita masa lalunya sebagai pembelajaran. Saya menyukai novel tersebut karena diceritakan dengan bahasa yang santai dan dengan kalimat yang puitis serta buku ini mengajarkan berbagai hal dalam kehidupan. Kriteria saya menyukai kedua buku tersebut karena menceritakan tentang perjuangan seseorang untuk mendapat apa yang mereka inginkan. 

Komentar

Postingan Populer