Dari Buku Harian Hingga Novel Terlaris: Ahmad Fuadi
Novelis populer pasca 2000-an yang selanjutnya akan
dibahas adalah Ahmad Fuadi. Penulis berdarah minang ini dikenal melalui karya
novel berjudul Negeri 5 Menara, yang
sempat populer di pertengahan tahun 2009. Ahmad Fuadi lahir pada 30 Desember
1972, di Bayur Maninjau, Sumatera Barat. Ia menghabiskan masa kecil dan
sebagian masa remaja di kampung halamannya, sebelum akhirnya merantau untuk
melanjutkan pendidikan di salah pesantren di Jawa Barat. Berasal dari sebuah
kampung kecil dekat dengan Danau Toba, tak pernah terpikir di benak Ahmad Fuadi
jika ia akan melanglang buana dan dikenal dunia dengan karya novelnya.
Ahmad Fuadi menjalani masa pendidikan Sekolah Dasar dan
Sekolah Menengah Pertama, di tanah kelahirannya, Maninjau. Sejak kecil, ia
terbiasa melihat tumpukan-tumpukan buku di rumahnya, karena kedua orang tuanya
berprofesi sebagai guru, dengan ayahnya seorang Kepala Sekolah, dan ibunya
seorang guru SD. Ia bahkan mendapat inspirasi untuk menulis pertama kali dari
ibunya. Setiap hari setelah ibunya pulang mengajar, Ahmad Fuadi selalu
memperhatikan bagaimana ibunya mengoreksi satu demi satu pekerjaan muridnya.
Setelah selesai mengoreksi, ia melihat ibunya selalu menulis catatan di sebuah
buku bersampul warna hitam. Hal tersebut selalu dilakukan oleh ibunya setiap
hari hingga menjadi sebuah rutinitas. Ahmad Fuadi kecil yang selalu penasaran
tentang isi catatan dalam buku ibunya tersebut, akhirnya tahu bahwa ibunya
menulis catatan harian tentang kejadian yang terjadi setiap hari. Dari sini ia
mendapat pandangan baru, bahwa menulis tidak harus berupa cerita karangan,
tetapi bisa juga tentang pengalaman diri sendiri (Larasati, 2019)
Di tahun 1988, Ahmad Fuadi melanjutkan pendidikannya di
KMI Pondok Modern Darussalam Gontor, Ponorogo, atas permintaan ibunya. Pergi
meninggalkan kampung halamannya untuk merantau, bukanlah sesuatu yang mudah
kala itu. Dengan masih setengah hati, ia akhirnya menyanggupi permintaan ibunya
untuk menjadi salah satu santri di Pondok Pesantren Gontor. Akan tetapi, niat
yang mulanya hanya setengah hati tersebut, nyatanya malah mengantarkan Ahmad
Fuadi menjadi seseorang yang dikagumi oleh para penikmat karya novelnya.
Hari-hari mulai dihabiskan Ahmad Fuadi sebagai seorang
santri. Berada di lingkungan pondok pesantren memberinya banyak pengalaman
baru. Salah satu yang paling mengesankan adalah ketika seorang ustaz memberikan
pengajaran tentang man jadda wa jadda,
yang memiliki arti “siapa yang bersungguh-sungguh, ia akan berhasil.” Satu
kalimat inilah yang kemudian menginspirasi Ahmad Fuadi untuk tetap meyakini
mimpi-mimpinya. Man jadda wa jadda
juga merupakan salah satu bagian yang paling esensial di novel Negeri 5 Menara yang telah ia tulis.
Ahmad Fuadi bukanlah seseorang yang memiliki latar
belakang sebagai seorang sastrawan. Pemuda yang berasal dari sebuah kampung
kecil di pinggir Danau Toba ini bahkan pernah menuturkan jika ia hanya suka
menulis untuk dirinya sendiri. Novel perdananya yang berhasil booming dan menjadi salah satu karya
best seller itu, merupakan kumpulan catatan-catatan hariannya semasa ia
menempuh pendidikan di pondok pesantren. Inspirasi yang ia dapat dari rutinitas
ibunya menulis buku harian, memberinya satu keyakinan bahwa tidak ada batasan
tertentu dalam menulis. Seseorang bahkan dapat menceritakan kisah atau pengalamannya
sendiri untuk kemudian dijadikan sebagai sebuah karya novel.
Ahmad Fuadi menyelesaikan studinya di KMI Pondok Modern
Darussalam Gontor tepat selama 4 tahun. Pada tahun 1992 ia meninggalkan pondok
pesantren yang telah berperan penting bagi perjalanan akademisnya. Selama 4
tahun menjadi seorang santri, Ahmad Fuadi telah banyak mendapat modal ilmu
pengetahuan. Kesehariannya di pondok ia habiskan untuk mendalami ilmu agama dan
ilmu pengetahuan. Ia juga terbiasa mendengarkan siaran pemberitaan melalui radio
dengan menggunakan bahasa Inggris dan bahasa Arab. Setelah lulus, Ahmad Fuadi
kembali melanjutkan pendidikan sarjananya di Universitas Padjajaran, Bandung.
Ia mengambil program studi S1 jurusan Hubungan Internasional. Dalam masa
perkuliahannya, novelis yang sempat berkarir menjadi seorang wartawan ini,
banyak mengikuti kegiatan kemahasiswaan, baik yang berada di lingkup kampus,
maupun yang bersifat exchange. Kebiasaannya
berkomunikasi dengan bahasa Inggris dan bahasa Arab ketika menjadi santri,
membuatnya fasih menggunakan dua bahasa tersebut. Ia bahkan tak sekali dua kali
mengikuti event mahasiswa
multinasional sebagai perwakilan kampusnya. Salah satu yang pernah ia ikuti
adalah program student gathering
ASEAN, yaitu sebuah program bagi sarjana yang dapat membawa mahasiswa di ASEAN
menjalani perkuliahan di University of
Singapore.
Setelah menamatkan pendidikannya di Universitas
Padjajaran, Ahmad Fuadi bekerja sebagai wartawan di majalah Tempo. Di
sinilah ia mendapat pendidikan dan pelatihan untuk menjadi seorang wartawan
profesional di tahun 1998. Pengalaman menjadi wartawan di majalah Tempo adalah
titik awal Ahmad Fuadi terjun dalam dunia penulisan di media massa. Ia telah
menulis kurang lebih 300 artikel pemberitaan yang dimuat di media massa.
Perjalanan karirnya menjadi seorang wartawan pun berlanjut hingga ke
mancanegara. Ahmad Fuadi pernah menjadi wartawan di Quebec, Canada di tahun
1995. Ia bahkan pernah menjadi wartawan VOA (Voice of America) di Washington DC (2001-2002).
Di tahun 1999, Ahmad Fuadi memutuskan untuk melanjutkan
pendidikan S2-nya. Ia terpilih untuk mendapat beasiswa full-bright sekolah pascasarjana di School of Media and Public Affairs, di George Washington University, Amerika Serikat dan menjadi asisten
penelitian School of Media and Public
Affairs dan Center for Media and Public Affairs. Tak hanya itu, ia juga
mendapat beasiswa Chevening, di Royal
Holloway, University of London, Inggris, dengan program studi yang ia
tekuni adalah Film Dokumenter (Larasati, 2019)
Proses kreatif penulis novel Negeri 5 Menara ini sangat dipengaruhi oleh pengalamannya yang
lebih dulu terjun di dunia jurnalistik. Dari kebiasaannya menulis artikel
berita, Ahmad Fuadi dapat memiliki kemampuan yang cukup baik untuk mengolah
sebuah karya tulis. Ia akhirnya menulis novel pertamanya yang diadaptasi dari
pengalamannya selama merantau dan menjadi santri. Negeri 5 Menara adalah penggambaran tentang kehidupan suka dukanya
selama menempuh pendidikan di pesantren. Selain itu, novel ini juga menyajikan
kisah motivasi tentang bagaimana seorang anak rantau yang berasal pelosok
negeri, mampu mewujudkan mimpi-mimpinya hingga dikenal oleh seluruh dunia. Man jadda wa jadda, motto hidup yang
didapat Ahmad Fuadi ketika menjadi santri di pondok pesantren, menjadi salah
satu bagian terpenting dalam novel pertama yang ia tulis. Negeri 5 Menara adalah wujud nyata dari mimpi-mimpi yang selama ini
diyakininya.
Setelah terbit di tahun pertama dan masuk ke dalam jajaran
novel best seller, Negeri 5 Menara
akhirnya dilirik oleh salah satu produser film Indonesia, untuk akhirnya
difilmkan dengan judul yang sama. Kesuksesan Ahmad Fuadi yang didapat dari
karya pertamanya ini juga mengantarkannya untuk menjadi salah satu nominasi
dalam sebuah penghargaan bergengsi Kusala Sastra Khatulistiwa (Khatulistiwa Literary Award) di tahun
2010. Hal tersebut membuat salah satu penerbit dari Negeri Jiran, Malaysia,
tertarik untuk menerbitkan karyanya dengan versi bahasa Melayu. Selain menjadi
nominasi, Ahmad Fuadi juga pernah menerima penghargaan sebagai Penulis dan
Fiksi Terfavorit (2010) dalam Anugerah Pembaca Indonesia dan Penulis Buku Fiksi
Terbaik dari Perpustakaan Nasional Indonesia (2011) (Larasati, 2019).
Satu tahun setelah novel pertamanya terbit, Ahmad Fuadi kembali menerbitkan dua karya novelnya, yang kemudian menjadi trilogij dari novel sebelumnya. Novel berjudul Ranah 3 Warna terbit pada 23 Januari 2011, kemudian novel terakhir yang berjudul Rantau 1 Muara menyusul terbit pada Mei 2013, yang rilis pertama kali di Washington DC. Ahmad Fuadi juga menulis beberapa buku lain, yaitu Man Jadda Wajadda Series, Dari Datuk ke Sakura Emas, Beasiswa 5 Benua, dan Anak Rantau. Sebagai seorang novelis yang juga mantan jurnalis, pencapaian-pencapaian Ahmad Fuadi tak hanya pada karya tulis novel. Ia mendapat sejumlah tawaran beasiswa dari universitas ternama di luar negeri, juga menjadi nominasi di beberapa penghargaan non-kesusastraan.
Ahmad Fuadi merupakan salah satu novelis yang tak hanya pintar dalam mengolah kata, tetapi juga pintar dalam hal akademis. Karya novel yang diadaptasi dari kegigihan serta perjuangannya meraih mimpi, adalah bukti bahwa ia pribadi yang tidak mudah menyerah. Saat ini, ia tengah mengelola sebuah Yayasan yang bernama Komunitas Menara. Yayasan tersebut ia dirikan sendiri, dan telah memiliki program sekolah gratis bagi anak usia dini yang tingga di sekitar Bintaro, Tangerang Selatan.


Komentar
Posting Komentar