Si Pemulai: Eka Kurniawan
Nama Eka Kurniawan
sudah tidak asing lagi di dunia sastra Indonesia. Kepiawaiannya dalam hal
menulis sudah tidak dapat diragukan lagi mengingat dirinya memiliki sederet
prestasi mentereng di kesusastraan Indonesia.
Buku-bukunya bahkan diterjemahkan ke berbagai bahasa dan tidak pernah
absen diburu penikmat sastra. Berkat melambungnya karya Eka Kurniawan, beberapa
liputan dari media luar negeri mengulas tentang dirinya serta karya-karyanya.
Eka menikah dengan Ratih Kumala yang juga seorang penulis. Dari pernikahannya
itulah, ia dan Ratih Kumala memiliki seorang putri bernama Kidung Kinanti
Kurniawan. Saat ini Eka Kurniawan bersama keluarga kecilnya tinggal di Jakarta.
Pria kelahiran Tasikmalaya, 28 November 1975 ini merupakan
alumnus Fakultas Filsafat Universitas Gadjah Mada lulusan tahun 1999. Ia
merupakan seorang penulis dan komikus yang pernah menjadi jurnalis dan penulis
cerita untuk televisi.
Saat masih kecil, ia tinggal di sebuah desa yang jauh dari
pusat kota bersama kakek-neneknya. Desa itulah yang menjadi pijakan awal Eka
Kurniawan menulis. Namun, ia harus ikut tinggal dengan kedua orang tuanya di
perkebunan karet di Cilacap, sebelum mereka pindah lagi ke desa kecil di Pangandaran
(Mundari, Agnelya, 2020).
Perjalanannya di dunia kepenulisan sudah tampak saat ia
duduk di bangku sekolah. Ketika masih duduk di bangku SMP, Eka gemar berkunjung
di sebuah taman baca yang terletak di terminal bus kota Pangandaran. Buku
kesukaannya ialah buku bergenre horor, salah satunya karya dari Abdullah
Harahap. Di tempat itulah, keinginan Eka untuk menulis pertama kali muncul.
Sebagai
seorang penulis, memiliki referensi atau penulis idola sudah menjadi sesuatu
yang lumrah. Karena semakin banyak seorang penulis memiliki referensi maka
semakin banyak amunisi yang dimiliki. Entah itu berkaitan erat dengan gaya
kepenulisan, penciptaan karakter, pembuatan plot, hingga gaya bahasa.
Eka
Kurniawan pun tidak menampik kalau karya-karyanya banyak dipengaruhi oleh
penulis-penulis lain. Salah satu penulis Indonesia yang cukup memengaruhinya
ialah Pramoedya Ananta Toer. Sementara penulis luar yang cukup memengaruhinya
yaitu Gabriel Garcia Marquez dan Fyodor Dostoevsky (melalui IDN Times, 2019).
Eka
Kurniawan mengawali karier kepenulisannya dengan menerbitkan buku pertamanya
berupa non-fiksi yang diterbitkan dengan judul Pramoedya Ananta Toer dan Sastra Realisme Sosialis. Buku tersebut
sebenarnya merupakan tugas akhir kuliahnya. Pertama kali diterbitkan oleh Yayasan Aksara Indonesia
pada tahun 1999. Pada tahun 2002, kembali diterbitkan oleh Penerbit Jendela dan
kembali diterbitkan untuk ketiga kalinya oleh penerbit yang berbeda yaitu oleh
Gramedia Pustaka Utama pada tahun 2006.
Banyak yang mengira bahwa novel Cantik itu Luka
merupakan karya fiksi pertama Eka Kurniawan. Namun, pada kenyataannya sebelum
namanya besar berkat novel Cantik itu Luka, Eka Kurniawan sudah lebih
dulu menerbitkan kumpulan cerita pendek berjudul Corat-Coret di Toilet
yang berisi sepuluh cerita pendek pada tahun 2000 oleh Yayasan Aksara Indonesia.
Cantik itu
Luka sebuah novel yang pernah ditolak sebanyak empat kali oleh
penerbit ini menjadi debut novel pertama karya Eka Kurniawan yang bisa
dikatakan karya fenomenal. Pertama kali diterbitkan tahun 2002 atas kerja sama
Akademi Kebudayaan Yogyakarta dan Penerbit Jendela. Edisi kedua dan seterusnya,
diterbitkan oleh Gramedia Pustaka Utama sejak tahun 2004. Kini telah
diterjemahkan ke dalam 34 bahasa asing dan diterbitkan hampir di 34 negara.
Pertama kali diterjemahkan ke dalam bahasa Jepang oleh Ribekta Ota dan
diterbitkan tahun 2006.
Sedangkan buku kumpulan cerita pendek yang berjudul Corat-Coret di Toilet secara
keseluruhannya ditulis pada periode 1999-2000. Tak hanya sekedar kisah, namun
semacam jejak sejarah. Buku ini diterbitkan ulang oleh Gramedia Pustaka Utama
pada tahun 2014 dengan menambah dua cerita pendek lagi. Cerpen-cerpen tersebut adalah Peter Pan, Dongeng Sebelum Bercinta, Corat-Coret di Toilet, Teman
Kencan, Rayuan Dusta untuk Marietje, Hikayat Si Orang Gila, Si Cantik yang Tak
Boleh Keluar Malam, Siapa Kirim Aku Bunga?, Tertangkapnya Si Bandit Kecil
Pencuri Roti, Kisah dari Seorang Kawan, Dewi Amor, serta Kandang Babi.
Walau sudah berhasil menerbitkan
buku dan cerita pendek di berbagai media massa, Eka Kurniawan rupanya sempat
ragu untuk menerbitkan bukunya di luar negeri. Beruntung, Eka terus dipaksa
oleh profesor dari Cornell University, Benedict Richard O'Gorman Anderson.
Benedict
sudah sempat membaca 2 karya novel Eka dan ia merasa sangat tertarik dengan novel-novel
Eka. Karena itu, ia sempat mendorong Eka agar mau mengajukan naskahnya untuk
diterbitkan ke luar negeri. Namun, Eka malah ragu sebab menurutnya novel itu
belum layak terbit di luar negeri.
Dengan dibantu Tariq Ali, seorang editor dari jurnal politik The New Left Review untuk
menerjemahkan Cantik itu Luka ke
Bahasa Inggris, novelnya berhasil dilirik penerbit asal Amerika Serikat, New
Directions pada tahun 2015 dengan judul Beauty
is Wound. Berkat novel tersebut, nama Eka Kurniawan melejit di Amerika
Serikat. Novel ini masuk daftar 100 buku terkemuka “The New York Time”. Ia pun meraih penghargaan “World Readers Award 2016” atas karyanya
tersebut. Ia juga menerima penghargaan “Emerging Voice 2016” kategori fiksi.
Sebelumnya, novel tersebut juga berhasil masuk daftar panjang
“Khatulistiwa Literaly Award” tahun 2003 (melalui IDN Times, 2019).
Tidak berpuas dengan Cantik itu Luka, Eka Kurniawan kembali pada tahun 2004, dengan Lelaki Harimau bersanding tangguh dengan
novel sebelumnya. Pada tahun 2015, dengan mengandalkan Labodalih Sembiring
sebagai alih bahasa, Man Tiger
kembali berhasil menembus skala internasional. Selain diterjemahkan ke dalam
bahasa Inggris, novel Lelaki Harimau
juga diterjemahkan ke dalam empat bahasa asing lainnya, yaitu Italia, Korea,
Jerman, dan Prancis.
Novel ini berhasil masuk longlist The Man Booker
International Prize 2016. Ia adalah orang Indonesia pertama yang masuk daftar
ini. Bagi pembaca karya sastra, ajang penghargaan literasi bertaraf
internasional yang pertama kali diselenggarakan pada 2005 ini bukan ajang
penghargaan yang biasa (Nugroho, Sakti, 2018).
Novel yang sama juga membawanya
dinobatkan sebagai pemenang penghargaan “IKAPI’s Book of the Year 2015” dan “Financial Times/Oppenheimer Funds
Emerging Voices 2016” pada kategori fiksi. Ia juga
dinobatkan oleh “Jurnal Foreign Policy” sebagai salah satu dari 100 pemikir
paling berpengaruh di dunia dan meraih penghargaan “Foreign Policy’s Global
Thinkers” (Harususilo, Yohanes, 2018)
Pada tahun 2014, Eka Kurniawan kembali mengeluarkan novel yang berjudul Seperti
Dendam Rindu Harus dibayar Tuntas dan kembali diterjemahkan pada tahun 2015
sebagai Vengeance Is Mine,
All Others Pay Cash. Realita yang ditunjukkan dalam Seperti Dendam Rindu Harusnya Dibayar Tuntas
mampu menyindir keadaan orang-orang kelas menengah ke bawah yang kerap
mendapatkan perlakuan yang tidak adil. Kerasnya hidup bagi orang-orang kelas
menengah ke bawah ditambah bumbu humor yang sarkastis semakin menegaskan
kemampuan Eka Kurniawan dalam meramu sebuah plot cerita.
Pada tahun 2021, novel Seperti Dendam
Rindu Harusnya Dibayar Tuntas diadaptasi menjadi sebuah film besutan Edwin bersama Eka Kurniawan yang terlibat
langsung sebagai penulis naskah dalam film tersebut. Film ini mampu
memperlihatkan gambaran akan keadaan masyarakat Indonesia pada tahun 80-90an. Film ini dapat terbilang sukses di pasar internasional
dan berhasil menyabet penghargaan “Golden Leopard” dalam ajang Festival Film
Internasional Locarno 2021. Tidak mengherankan memang jika film yang
diangkat dari novel Eka Kurniawan ini berhasil meledak di pasar internasional,
karena memang Eka selalu berhasil menghasilkan karya sastra yang berani dan
berbeda dari kebanyakan penulis Indonesia.
Di tahun 2016, Eka menerbitkan novel yang
berjudul O dan saat ini sedang menunggu kelahiran karyanya yang
diterjemahkan ke dalam judul Kitchen Curse. Karya tersebut berasal dari
kumpulan cerita pendek yang pernah ia terbitkan yaitu Corat-coret di Toilet
(2000), Cinta Tak Ada Mati (2005), dan Perempuan Patah Hati yang Kembali Menemukan Cinta Melalui Mimpi (2015).
Novel O menceritakan seekor monyet
bernama O yang jatuh cinta dan ingin menikah dengan Entang Kosasih
"kaisar dangdut". O pun percaya dengan bertingkah laku seperti
manusia, ia dapat menjadi manusia dan bertemu dengan pujaannya.
Eka Kurniawan mengaku novel tersebut
merupkan hasil karya kerja penulisan sejak tahun 2008 dan membutuhkan waktu
hampir delapan tahun untuk menyelesaikan novel ini. Penggemar Pramoedya Ananta
Toer ini mengungkapkan gagasan tokoh monyet baru muncul sekitar empat tahun
yang lalu. Saat itu ketika ia dan putrinya melihat atraksi topeng monyet di
perempatan lampu merah.
Bagi Eka Kurniawan, kisah 1001 Malam menjadi salah satu
inspirasinya dalam menulis novel O ini. Ia pun berharap novel yang
disebutnya sebagai fabel dewasa ini bisa diterima dengan baik dan disukai oleh
para pembacanya. O menjadi buku kesembilan Eka Kurniawan setelah Corat-Coret di Toilet (kumpulan cerpen,
2000), Cantik itu Luka (novel, 2002), Lelaki Harimau (novel,
2004), Gelak Sedih (kumpulan cerpen,
2005), Cinta Tak Ada Mati (kumpulan cerpen, 2005), Kumpulan Budak
Setan (kumpulan cerpen, 2010), Perempuan Patah Hati yang Kembali
Menemukan Cinta Melalui Mimpi (kumpulan cerpen, 2015), Seperti Dendam
Rindu Harus dibayar Tuntas (novel, 2014), dan O (novel, 2016).
Penghargaan tak habis-habisnya diberikan kepada Eka Kurniawan. Tahun 2018 ia meraih penghargaan “Prince Claus Award” kategori Sastra/Literatur di Belanda. Berdasarkan keterangan panitia Prince Claus Award, Eka Kurniawan terpilih karena kemampuannya menarasikan kisah-kisah imajinatif lewat keindahan prosa dan juga universalitas materinya, serta dianggap mampu memberikan perlawanan terhadap tindakan politik sewenang-wenang dan membawa isu-isu sosial dalam bentuk yang akrab dengan masyarakat. Tidak hanya itu, Eka Kurniawan juga dinilai berhasil mengangkat budaya Indonesia lewat penceritaan kembali kisah dan mitologi lokal yang selama ini mulai terabaikan (Khoiri, 2019). Namun, siapa sangka sastrawan tersebut pernah menolak penghargaan dari negara. Eka Kurniawan secara tegas menolak penghargaan Anugerah Kebudayaan dan Maestro Seni Tradisi 2019 dengan alasan tidak ada bukti nyata negara dan pemerintah melindungi seniman dan kerja-kerja kebudayaan. Ia berharap kedepannya, pemerintah dapat menghargai para seniman Indonesia seperti menghargai atlet-atletnya.


Komentar
Posting Komentar