Analisis Estetika Cerpen Siapa Suruh Sekolah di Hari Minggu? Karya Faisal Oddang

Siapa Suruh Sekolah di Hari Minggu? merupakan cerita pendek karya sastrawan muda berbakat Indonesia bernama Faisal Oddang yang berasal dari Sulawesi Selatan. Cerita pendek tersebut telah terbit bersama dengan 14 cerpen lainnya dalam buku kumpulan cerpen berjudul Sawerigading Datang dari Laut dan berada di urutan ke-10 dalam buku. Faisal Oddang di dalam cerpennya Siapa Suruh Sekolah di Hari Minggu? bereksperimen dengan sejarah Indonesia yang terjadi di Sulawesi Selatan. Oddang memang terkenal sebagai penulis yang selalu melibatkan aspek sejarah, kebudayaan, dan lain sebagainya yang masih berkaitan dengan Sulawesi Selatan. Maka dari itu, tidak mengherankan apabila cerpennya kali ini mengangkat fenomena sejarah di Sulawesi Selatan.

Cerita pendek Siapa Suruh Sekolah di Hari Minggu? bercerita mengenai serangkaian pembalasan dendam Semmang karena cintanya yang terkhianati setelah mantannya lebih memilih menikah dengan pria lain. Semmang menggunakan Rahing yang masih usia belia sebagai senjata utama untuk melaksanakan serangkaian pembalasan dendamnya. Rahing sendiri merupakan anak bungsu dari mantan kekasih Semmang yang menikah dengan orang lain, selain Rahing ada juga Walinono yang merupakan kakak laki-laki Rahing. Cerpen memiliki alur campuran dengan sudut pandang yang berpindah-pindah sehingga pembaca diharapkan dapat meresapi lebih mendalam plot cerita. Semmang pada akhirnya berhasil membunuh mantannya yang merupakan ibu dari Rahing dan Walinono, kemudian berhasil mencuci otak serta mendapatkan kepercayaan Rahing yang akhirnya mematuhi perintah Semmang untuk membunuh kakaknya, yaitu Walinono.

Faisal Oddang tentu membawa tema sejarah dalam cerpen kali ini untuk menyiratkan estetika tertentu yang diharapkan dapat ditangkap oleh pembaca. Terlebih dengan memberikan sudut pandang dari berbagai tokoh di dalam cerpen semakin menekankan bahwa Oddang memang benar-benar berusaha untuk menunjukan estetika sejarah yang dibalut dalam sebuah cerpen. Selanjutnya untuk analisis kesatuan, keharmonisan, kesimetrisan, keseimbangan, dan pertentangan di dalam cerpen akan dipaparkan berikut ini.

Berdasarkan parameter kesatuan, cerpen Oddang yang menggunakan alur campuran merupakan sebuah pilihan yang bagus apabila disatukan dengan substansi yang berat dari bidang sejarah. Terlebih dengan sudut pandang setiap tokoh yang diperlihatkan sehingga sejarah yang dibahas di dalam cerpen dapat bersifat objektif. Berdasarkan dua unsur intrinsic tersebut maka Oddang berhasil memunculkan parameter estetika kesatuan dari cerpennya.

Berdasarkan parameter keharmonisan, Oddang memunculkan keharmonisan dari perpaduan antara genre romantis dengan bidang sejarah yang dibalut menjadi sebuah cerpen. Perpaduan tersebut memunculkan keharmonisan karena kisah cinta pengkhianatan antara Sammang dengan ibu Rahing tidak terasa membosankan dan justru menjadi menarik karena penambahan bumbu-bumbu sejarah Sulawesi Selatan yang Oddang dapatkan berdasarkan pengalaman hidupnya di Sulawesi Selatan.

Berdasarkan parameter kesimetrisan, cerpen Oddang unggul karena berdasarkan unsur intrinsik dari cerpen dengan bagaimana penyusunan Oddang terhadap konflik cerpen terdapat kesimetrisan yang dapat ditangkap oleh pembaca. Pada akhirnya, keseluruhan unsur intrinsik tersebut menghasilkan kelogisan di akhir cerita dan memberikan keindahan tersendiri karena keseluruhan konflik yang dipakai untuk membangun suasana dapat ditemukan benang merahnya setelah selesai pembacaan cerpen Oddang tersebut.

Berdasarkan parameter keseimbangan, Oddang menyeimbangkan cerpen dengan setiap tokohnya mendapatkan bagian untuk menunjukkan sudut pandangnya sehingga dapat memunculkan keindahan keseimbangan dari cerpen Oddang ini. Keseimbangan juga muncul dengan Oddang yang menghadirkan keluguan Rahing yang dihadirkan untuk menyeimbangkan dengan kekejaman Sammang.

Berdasarkan parameter pertentangan, Oddang melakukan hal paling terbaik di parameter ini. Pembaca disuguhkan dengan pertentangan antara keluguan Rahing dengan kekejaman Sammang. Tidak hanya berhenti di situ, Oddang juga menghadirkan adegan pembunuhan di tengah cerpen dengan adegan di mana Rahing yang masih usia belia memperlakukan kepala kakaknya yang telah ia bunuh sebagai bola sepak. Rahing yang bermain sepak bola dengan kepala kakaknya tersebut memunculkan keindahan pertentangan yang cukup membuat pembaca bergidik ngeri. Judul cerpen yang memunculkan kesan keluguan juga bertentangan dengan substansi cerpen yang memuat adegan-adegan pembunuhan. 

Dapat disimpulkan bahwa Oddang telah berhasil memenuhi kelima parameter estetika dari karya sastra. Setiap parameter yang telah dideskripsikan di atas membuat cerpen Oddang kali ini yang berjudul Siapa Suruh Sekolah di Hari Minggu? Membawa angin segar dari sastrawan muda untuk penikmat sastra Indonesia. Oddang sekali lagi membuktikan kemampuannya yang patut diapresiasi lebih lagi di dalam dunia kesustraan Indonesia ini. 

Komentar

Postingan Populer