Sinopsis Cerita Lakon Wayang "Semar Mbangun Khayangan"

Cerita lakon Semar Mbangun Kahyangan yang akan dipaparkan merupakan versi dari rekaman dalang Ki Hadi Sugito. Sumber cerita belum diketahui asal-usulnya karena merupakan hasil karangan orang-orang Jawa atau lakon carangan. Berdasarkan sumber-sumber yang telah diperoleh penulis maka lakon dapat dijabarkan sebagai berikut:

Lakon dimulai dengan para Pandawa berkumpul di Amarta untuk membahas mengenai perbaikan Pertapaan Giri Sarangan yang merupakan situs purba peninggalan nenek moyang Pandawa. Tidak lama setelah itu datanglah Prabu Kresna yang menyapa seisi ruangan. Kemudian, Pandawa meminta saran perihal hambatan-hambatan yang akan dihadapi ketika hendak memperbaiki pertapaan tersebut kepada Prabu Kresna karena beliau dikenal akan kebijaksanaannya.

Setelah mendengar seluruh masalah dan hambatan yang dihadapi oleh Pandawa, Prabu Kresna menyarankan untuk mengikutsertakan Semar dalam proses perbaikan pertapaan. Saran tersebut diberikan karena Semar merupakan lambang dari rakyat Amarta. Prabu Kresna juga berpesan kepada Pandawa untuk menjaga pusaka Amarta agar tidak hilang. Akan tetapi, Semar sendiri sebagai lambang rakyat Amarta sudah lama tidak berkunjung ke daerah tersebut. Prabu Kresna akhirnya mengutus Arjuna ke kediaman Semar untuk meminta kehadiran Semar yang telah lama absen di Amarta.

Sebelum Arjuna sempat beranjak ke Padukuhan Karang Kabolotan, kediaman Semar, datanglah Petruk atas perintah Semar untuk mengundang para Pandawa datang ke kediamannya dengan maksud mendukung rencana pembangunan Kahyangan serta memohon izin kepada Pandawa untuk meminjam 3 pusaka Amarta, yaitu Jamus Kalimasada, Tombak Koro Welang, dan Payung Tunggul Naga. Belum selesai Petruk menyampaikan pesan dari Semar, Prabu Kresna yang salah paham memotong Petruk dengan melarang para Pandawa menghadiri undangan dari Semar tersebut dan tidak boleh mendukung serta membantu rencana Semar dengan meminjamkan 3 pusaka Amarta. 

Prabu Kresna mengira Semar hendak membuat Kayangan tandingan bagi Kahyangan tempat tinggal para dewa. Akhirnya Prabu Kresna memerintahkan Petruk untuk kembali ke kediamannya serta menitipkan pesan kepada Semar agar tidak melaksanakan rencananya tersebut. Namun, Petruk menolak dan ingin mendengarkan tanggapan para Pandawa terlebih dahulu serta bersikeras setelah itu akan datang ke kediaman Prabu Kresna di Dwarawati untuk membicarakan perihal rencana ini pula. Akibatnya Prabu Kresna naik pitam dan hendak kembali ke Dwarawati dengan mengajak Arjuna. Petruk akhirnya mengikuti Prabu Kresna dan Arjuna menuju ke Dwarawati.

Sepeninggal Prabu Kresna, Arjuna, dan Petruk, Sadewa berusaha memberikan solusi dengan menyarankan kepada kakak-kakaknya untuk bersama meninjau ketiga usaka di ruangannya untuk membuktikan apakah Semar benar atau salah. Apabila ketiga pusaka tersebut hilang menuju ke Padukuhan Karang Kabolotan maka empat Pandawa akan sepakat untuk menghadiri dan mendukung rencana Semar membangun Kayangan. Sesampainya keempat Pandawa ke dalam ruangan pusaka, ketiga pusaka bersinar dan sekejap hilang menuju ke kediaman Semar. Oleh karenanya, keempat Pandawa setuju untuk menghadiri undangan Semar dan mendukung rencana Semar tersebut dengan segera bergegas menuju ke Padukuhan Karang Kabolotan.

Sedangkan situasi di Dwarawati hanya terdapat Petruk di sana karena Prabu Kresna serta Arjuna sudah pergi naik ke Suralaya atau Kayangan untuk mengadukan rencana Semar kepada Batara Guru. Petruk memilih menunggu persetujuan Prabu Kresna meskipun sudah diberikan perintah untuk kembali ke Padukuhan Karang Kabolotan. Di waktu menunggunya, datanglah Ontoseno yang menyapa Petruk serta menanyakan maksud kehadirannya di Dwarawati.

Petruk menjelaskan situasi yang sedang terjadi dan Ontoseno yang mendengarkan menyetujui rencana Semar serta berkata bahwa Prabu Kresna kemungkinan salah paham dengan rencana dari Semar. Menurut Ontoseno, Semar tidak sedang berencana membangun Kahyangan untuk menandingi Suralaya, tetapi rencana Semar membangun Kayangan tersebut adalah untuk membangun ‘rasa’ dalam diri para Pandawa agar menjadi suri teladan yang baik. Selanjutnya Ontoseno menyarankan Petruk untuk kembali ke Padukuhan Karang Kabolotan karena apabila tidak maka sebentar lagi Gatotkaca, Antareja, dan Satyaki akan datang untuk mengusir Petruk atas suruhan Prabu Kresna.

Benar saja, tidak lama kemudian datanglah Gatotkaca, Ontorejo, dan Satyaki untuk menyuruh Petruk kembali. Petruk yang bersikeras tetap tinggal akhirnya membuat ketiga ksatria tersebut terpaksa menggunakan kekerasan agar Petruk kembali ke kediamannya. Pada akhirnya Petruk dapat mengatasi perkelahian tersebut dan datanglah ketiga pusaka Amarta beserta pusaka Prabu Kresna untuk memerintahkan Petruk kembali ke Padukuhan Karang Kabolotan. Perintah tersebut karena keempat Pandawa sudah memutuskan setuju serta mendukung rencana Semar dan sedang dalam perjalanan menuju ke tempat Semar.

Prabu Kresna bersama Arjuna di Suralaya bertanya melapor serta bertanya kepada Batara Guru perihal rencana Semar yang hendak membangun sebuah Kayangan. Batara Guru yang belum mendengar hal tersebut memerintahkan mereka berdua untuk menangkap Semar dan memberikan sanksi dengan memasukkan Semar ke dalam Kawah Candradimuka. Sepeninggal Prabu Kresna dan Arjuna, Narada memberikan nasihat bahwa Kahyangan yang dimaksud Semar adalah kegiatan menyempurnakan ilmu para Pandawa tanpa ada maksud buruk. Namun, Batara Guru yang sudah gelap hati semakin marah dan menuduh Narada bersekutu dengan Semar. Kemarahannya membuat ia memerintah Batari Durga untuk mengerahkan pasukan bajubarat-bajubarat (lelembut, banaspati, buto, dan jin) untuk menangkap siapapun yang mendukung rencana Semar.

Prabu Kresna dan Arjuna atas perintah Batara Guru merencanakan untuk menangkap Semar. Demi keberhasilan rencana maka Prabu Kresna berubah menjadi Gandarwa yang sebesar anak gunung dan Arjuna berubah menjadi harimau sebesar kuda. Di lain tempat, Hanoman yang memiliki firasat menggunakan kemampuan telepatinya untuk menghubungkan pikiran dengan Semar. Dalam telepati tersebut Semar memerintahkan Hanoman untuk datang ke Padukuhan Karang Kabolotan. Hanoman dalam perjalanan bertemu dengan pasukan bajubarat-bajubarat dan menimbulkan perkelahian yang dimenangkan oleh Hanoman.

Petruk atas perintah 3 pusaka Amarta dan pusaka Prabu Kresna akhirnya tiba di Padukuhan Karang Kabolotan yang kali ini disertai Antasena. Tidak lama rombongan dari Amarta tiba juga di tempat tersebut untuk memenuhi undangan Semar serta ikut mendukung rencananya. Semar yang melihat absennya Arjuna datang terheran dan Yudhistira menjawab bahwa adiknya telah tertutupi awan mendung sehingga tidak bisa berpikir jernih. Yudhistira juga mulai bertanya eksekusi serta kelanjutan dari rencana Semar.

Terjawab sudah ternyata memang benar seperti yang dikatakan Antasena dan Narada bahwa rencana membangun Kahyangan yang dimaksud Semar adalah untuk membangun ‘rasa’ pada diri para Pandawa. Semar menjelaskan pula kepada keempat Pandawa bahwa langkah-langkah yang harus dilakukan untuk melaksanakan rencana adalah dengan menyatu kepada ‘rasa’ yang ada pada diri Semar untuk bertemu Sang Hyang Wenang di dalam dirinya. Keempat Pandawa pun menghilang masuk ke dalam diri Semar untuk bertemu penguasa dunia yang menjelma menjadi Semar.

Sepeninggal keempat Pandawa bertemu Sang Hyang Wenang, Semar mengajak Hanoman untuk melakukan mengheningkan cipta (semedi) demi membuktikan cara membangun sebuah Kayangan. Setelah Semar dan Hanoman pergi, datanglah Gatotkaca, Ontorejo, serta Satyaki yang disambut oleh Abimanyu. Akan tetapi, Ontorejo tiba-tiba kerasukan dan membunuh Abimanyu kemudian pergi. Gatotkaca pergi hendak memberikan hukuman kepada adiknya tersebut sedangkan Abimanyu disembuhkan oleh Semar yang dipanggil dari semedinya oleh Bagong. Setelah Abimanyu pulih, Semar memerintahkan Petruk untuk melerai Gatotkaca dan Ontorejo. Petruk meminta bantuan Antasena untuk melerai Gatotkaca serta menyadarkan Ontorejo dari kerasukan.

Antasena yang telah menyadarkan Ontorejo menghimbau kepada semua orang di Padukuhan Karang Kabolotan untuk tetap waspada karena dengan adanya kerasukan ini artinya pasukan bajubarat-bajubarat telah tiba di padukuhan untuk membantu Prabu Kresna dan Arjuna menangkap Semar. Pada akhirnya pasukan bajubarat-bajubarat kalah dalam perkelahian tersebut dan terpukul mundur kembali ke Suralaya.

Sedangkan keempat Pandawa yang sedang dalam pertemuan dengan Sang Hyang Wenang di dalam diri Semar mendengarkan dengan seksama pemaparan pedoman atau pegangan hidup dalam bentuk kitab So Ngelmu Sejati yang merupakan amanat dari Sang Hyang Nurcahya (kakek dari Sang Hyang Wenang). Menurut Sang Hyang Wenang yang paling berhak menerima kitab ini adalah para Pandawa karena kelima sifat yang mereka bawa. Pandawa sendiri merupakan representasi atau perwujudan dari Panca Driya yang menopang sebuah kehidupan. Wujud dari Panca Driya tersebut adalah karna, nipto, grono, lisan, dan paningal. Setiap dari individu dalam Pandawa mewakili wujud-wujud dari Panca Driya tersebut dan apabila tidak lengkap maka akan berkurang kekuatannya.

Kitab tersebut menurut Sang Hyang Wenang berisi ajaran sangkan paran urip, kemudian asal-usul kehidupan yang berawal dari gua garba (rahim), dwipa, eka chandra, hingga nawa chandra. Kemudian ajaran ngelmu sastra (tulis) jendra (berputar) wahyu (hidup) ningrat (jagat) pengruwating (melebur) diyu (buto) yang berada dalam diri manusia serta memiliki arti bahwa 1) hidup manusia itu selalu berputar menunggu sesuatu yang telah ditakdirkan atau dituliskan oleh Tuhan, 2) manusia harus tahu asal-usulnya hidup di dunia, dan 3) manusia harus bisa meleburkan atau menahan hawa nafsunya. Keseluruhan ajaran tersebut dapat dicapai dan diketahui dengan kasampurnaning dumadi dengan alam kalanggengan (keabadian). Sang Hyang Wenang yang telah selesai menjelaskan isi dari kitab berpesan kepada keempat Pandawa untuk menyebarkan ajaran-ajaran di dalamnya.

Kondisi di Padukuhan Karang Kabolotan sedang terjadi peperangan antara pihak Semar dengan pihak Prabu Kresna dan Arjuna. Pada akhirnya Prabu Kresna yang kabur dapat dikalahkan dengan strategi dari Antasena untuk menyerang Prabu Kresna dari keempat arah mata angin. Bagong di bagian barat mengucap teguh rahayu wiyono slamet, Petruk di utara mengucap slamet kersaning dewa, Gareng di selatan mengucap kajade ora dadi, dan Antasena dari timur. Sedangkan Arjuna dikalahkan ketika ia hendak menerkam Semar dan setelah tertangkap akhirnya ia sadar meminta maaf kepada Semar atas perbuatannya.

Berita kekalahan Prabu Kresna dan Arjuna membuat Batara Guru diliputi  kemarahan dan turun ke bumi untuk menangkap Semar dengan tangannya sendiri. Pada akhirnya Semara tetap menang dan Narada yang ikut turun ke bumi meminta maaf kepada Semar. Sang Hyang Wenang yang telah selesai membangun kahyangan dengan keempat Pandawa menutup cerita dengan menjelaskan apa yang dimaksud Semar dengan rencananya untuk membangun kahyangan. Batara Guru akhirnya meminta maaf kepada Semar atas kegaduhan dan kesalahpahaman yang telah terjadi.

 

Komentar

Postingan Populer