Bayangan Cermin dan Bayangan Tubuh
Kamu mengeluh, terus mengeluh. Mulai dari kepala hingga kaki sepertinya tidak ada yang bagus di matamu. Mulai dari kejadian hari ini hingga masa depanmu yang bahkan tidak ada yang tahu, semua kamu keluhkan. Kami berdua bertanya-tanya, apa yang kamu mau? Apa yang kamu inginkan? Apa yang hendak kamu perbaiki? Kenapa kamu merasa rendah diri? Seperti hari ini, baru saja tahun baru tiba, sudah keluar keluhan pertamamu—yang kami yakin akan terus memanjang daftarnya sampai akhir tahun. Kami bingung harus bagaimana, kami khawatir, dan kami berharap bisa membantu keluhanmu. Apa daya, kami hanya sebatas bayangan tubuhmu dan bayanganmu di cermin. Kami bertanya-tanya sejak kapan kami hidup menjadi bayanganmu. Seharusnya kami juga tidak perlu sekhawatir ini dengan setiap keluhan dan rasa mindermu, tetapi nyatanya tiap malam datang, bayangan cermin dan bayangan tubuhmu ini kerap berbincang khawatir mengenai hal tersebut hingga pagi kembali datang.
Aneh bukan?
Hari ini kamu seperti biasa, bangun, ibadah, mandi, lalu membuka
laptopmu untuk kuliah. Kami sudah hapal, kami sudah belajar, dan kami sudah
tahu betul semua mengenai dirimu. Semua berjalan seperti biasa hingga kamu yang
seharusnya sudah beristirahat di sore hari tiba-tiba membuka laptop. Kami
penasaran, kamu yang biasanya menghabiskan waktu di sore hari dengan hanya
tiduran dan menonton idolamu tiba-tiba membuka laptop di jam santaimu? Kami
menatap heran dirimu hari ini.
Esoknya kamu juga aneh, kamu bangun dan membuka laptop di hari
libur kuliah. Setelah selesai, kami menatap wajahmu yang penuh luapan emosi
seperti menunggu dan menanti sesuatu. Kami penasaran, kamu yang biasanya
menceritakan segala kegiatanmu dengan temanmu di telepon—dan dari situlah kami
berdua mengetahui aktivitas apa yang kamu lakukan— sekarang tidak bercerita
sama sekali dengan temanmu mengenai keseharianmu beberapa hari ini yang aneh
dan cukup sibuk.
"Ada apa dengan Rani?" tanya bayangan cermin, malam itu.
"Tidak tahu, dia terlihat sibuk beberapa hari ini. Aku sempat
mencoba ikut mendengarkan apa yang dia bicarakan di depan laptop, tetapi aku
tidak paham," jawab bayangan tubuh.
Baik bayangan cermin maupun bayangan tubuh Rani sama-sama tidak
menemukan jawaban malam itu. "Tetapi ada satu hal yang aku sadari sejak
dia mulai sibuk beraktivitas beberapa hari ini," ucap bayangan tubuh.
"Apa? Beri tahu aku," bayangan cermin terdengar
penasaran.
“Dia berhenti mengeluh, ini sebuah keajaiban, ini menarik, tetapi
kenapa?” bayangan tubuh berpose seperti detektif sekarang. “Benar juga, dia
juga beberapa hari ini sudah berhenti berkaca sembari mengeluh, meskipun aku
sedikit rindu dengan kebiasaannya itu, tetapi aku rasa Rani yang sibuk dan aneh
ini lebih baik.” Kami berdua diam tenggelam di pikiran masing-masing.
Semua semakin aneh setelah tepat di suatu hari Rani memakai baju
yang rapi dan dia terlihat... berbeda. Begitu lah pemikiran bayangan cermin dan
bayangan tubuh. Hari itu, Rani akhirnya menelpon temannya, kedua bayangan
tersebut dengan rasa penasaran yang tinggi mendengarkan dengan seksama
percakapan mereka.
Tuk
Rani menutup sesi bercerita lewat telepon hari itu dengan temannya.
Baik bayangan cermin dan bayangan tubuh terdiam. Rani berjalan menuju meja
belajarnya dan membuka laptopnya. Bayangan tubuh dan bayangan cermin saling
menatap satu sama lain.
“Ah, wujudmu semakin kabur,” bayangan cermin terdengar bersuara
pelan kali ini.
“Kau juga,” balas bayangan tubuh, tidak kalah pelan.
Wujud bayangan cermin dan bayangan tubuh lama-lama semakin
menghilang. Mereka mulai paham dan mengerti kenapa mereka bisa ada dan kenapa
mereka begitu khawatir dengan setiap keluhan Rani.
“Jadi, pesan dari aku untuk semua perempuan di dunia. Kalian hebat
dan kalian berharga. Memang tidak mudah untuk menghargai diri sendiri, apalagi
tuntutan dunia terhadap perempuan semakin tinggi. Ada kalanya kita terus
berkeluh kesah, tidak apa, itu wajar karena merupakan salah satu fase hidup
yang tentu tidak dapat kita hindari dan itu manusiawi, asalkan tidak berlebihan.
Aku juga pernah mengalami fase itu. Nah, sekarang, mari kita mulai mengumpulkan
niat, mempersiapkan diri menjadi versi terbaik kita, dan mulai melangkah berani
mengambil pilihan dan tantangan.”
Rani menghela napas, tetapi bukan karena keluhan, kali ini helaan
napasnya lebih menunjukkan sebuah kelegaan, sebuah kepuasan.
“Terima kasih kepada panitia forum yang sudah memberikan saya
kesempatan untuk ikut berkontribusi dalam pertemuan forum kali ini. Anyway,
selamat hari perempuan internasional semuanya,” ucap Rani riang dan tersenyum
lebar.
Tepat setelah Rani menutup pembicaraannya hari itu, bayangan cermin
dan bayangan tubuh menghilang perlahan-lahan, tetapi mereka tidak sedih.
Mereka senang. Mereka bahagia. Justru ini adalah kabar baik apabila
mereka menghilang.
Ternyata mereka bukan bayangan, mereka adalah wujud yang tercipta
dari setiap keluhan dan rasa rendah diri Rani. Bayangan cermin dan bayangan
tubuh menatap berbagai keluhan Rani yang keluar dari tubuh mereka dan
menghilang kabur bersama angin.
Mereka berdua menghilang bersama rasa rendah diri Rani. Menghilang
membawa setiap keluhan Rani.
Selamat tinggal, Rani.
Selamat membuka lembar baru hidupmu.


Komentar
Posting Komentar