Belajar Budaya Melalui Novel: Analisis Estetika Novel Tiba Sebelum Berangkat Karya Faisal Oddang

Novel Tiba Sebelum Berangkat menyajikan kisah yang terbentang dari tahun 1950 hingga sekarang. Pengkhianatan, air mata, penyiksaan, dendam, kematian, amarah, dan cerita cinta yang muram dikisahkan oleh seseorang yang sedang berada di ruang penyekapan. Seseorang yang menunggu satu per satu anggota tubuhnya ditanggalkan sebelum dijual. Faisal Oddang di dalam novelnya kali ini mengangkat kebudayaan serta fenomena sejarah yang terjadi di Sulawesi Selatan dengan gaya tulisannya yang lugas membuat novel Oddang mudah dipahami. Terlebih Oddang juga menghadirkan banyak sudut pandang tiap tokoh novelnya, kebiasaan menulis Oddang yang menjadi nilai tambah bagi karya sastranya karena terkesan ramah bagi para pembaca awam yang akan merasa terberatkan dengan keterlibatan budaya serta sejarah Sulawesi Selatan di dalam novel. Maka dari itu, berangkat dari beberapa alasan di atas penulis tertarik untuk mengkaji estetika yang terdapat di dalam novel Tiba Sebelum Berangkat.

Parameter estetika pertama adalah kesatuan yang dapat diambil dari gaya kepenulisan Faisal Oddang di mana ia menuliskan secara detail alur serta konflik dalam cerita dengan menghadirkan beberapa sudut pandang tokoh-tokoh pentingnya. Dimulai dari sudut pandang Mapata yang merupakan tokoh utama di dalam novel, kemudian sudut pandang Puang Matua yang merupakan orang yang dihormati oleh Mapata, dan sedikit sudut pandang dari Batari sebagai istri Mapata untuk melengkapi serta membuat konflik serta plot cerita novel semakin sedap. Setiap sudut pandang tersebut serta setiap tulisan cerita Mapata membuat novel ini seperti kue lapis yang selain indah ketika dilihat juga perpaduan rasanya yang menunjukkan kesatuan setiap lapisannya. Begitu pula dengan novel Tiba Sebelum Berangkat karya Faisal Oddang ini.

Parameter keharmonisan muncul karena kelihaian Faisal Oddang dalam memadukan unsur intrinsik novel dengan unsur ekstrinsiknya. Unsur intrinsik cerita yang memberikan warna kepada penokohan tiap karakter, konflik yang terjadi, serta alur yang bersifat maju-mundur untuk memberikan alur yang mudah dipahami oleh pembaca kemudian disandingkan dengan unsur ekstrinsik sejarah serta kebudayaan Sulawesi Selatan seperti ritual bissu yang dilakukan oleh Puang Matua membuat novel ini memunculkan parameter keharmonisan yang bisa ditangkap oleh pembaca. Keharmonisan semakin dapat dilihat dari bagaimana Oddang dengan kecerdikannya memasukkan genre romansa antara Mapata dengan Batari serta pengkhianatan yang terjadi di antara mereka membuat estetika keharmonisan di novel ini patut diberikan bintang 5.

Estetika kesimetrisan dari novel Tiba Sebelum Berangkat dapat dilihat dari judulnya yang muncul di dalam subbab novel menandakan bahwa subbab tersebut merupakan titik puncak konflik di dalam novel. Kesimetrisan muncul karena memang benar di dalam subbab tersebut emosi serta pikiran pembaca dipermainkan oleh tulisan Faisal Oddang setelah sebelumnya emosi pembaca telah dibangun dengan penyiksaan terhadap Mapata dan hal-hal mengenaskan yang menimpanya. Maka dari itu, kesimetrisan muncul karena memang benar dan simetris antara judul novel dengan ekspetasi puncak konflik yang berada di subbab novel dengan judul sama dengan judul utama.

Keseimbangan dimunculkan oleh Oddang dengan mengimbangi segala penderitaan Mapata terhadap kisah cintanya dengan Batari. Oddang juga di awal hingga pertengahan novel memberikan penggambaran Mapata yang sangat sayang dengan keluarganya dan Batari serta anaknya, yaitu Walida yang selalu harap cemas menunggu kepulangan Mapata setelah diculik akibat dianggap sebagai dalang sebuah aliran. Oddang juga menghadirkan kisah cinta antara Bissu Rusmi dengan Andi Upe yang meskipun berakhir tragis, tetapi Oddang berusaha mengimbanginya dengan memunculkan sejarah pertemuan antara mereka berdua. Oddang juga menghadirkan usaha Batari dalam memperjuangkan cintanya terhadap Mapata.

Pertentangan muncul di akhir novel dengan pengakuan Batari yang ternyata telah berselingkuh dengan Sumiharjo. Sumiharjo sendiri merupakan salah satu pelaku yang ikut dalam penyiksaan Mapata. Parahnya Batari telah berselingkuh dengan Sumiharjo sejak sebelum Mapata diculik. Batari juga telah mengetahui motif Sumiharjo yang dating ke salon sebagai mata-mata. Perselingkuhan Batari ini, serta Walida yang tidak mengenali Mapata merupakan pertentangan yang terjadi di dalam novel. Pertentangan tersebut muncul karena di awal hingga pertengahan novel hal yang membuat Mapata selalu bertahan hidup dan merupakan kelemahannya adalah Batari dan anaknya Walida. Mapata bahkan pada akhirnya mau bercerita setelah keluarganya diancam akan disiksa juga. Dari pertentangan ini selain terdapat estetika di dalamnya, tetapi cukup tragis serta menguras emosi karena pembaca telah dibangun ekspetasinya tentang Batari dan Walida yang penuh cemas serta khawatir menunggu kepulangan Mapata.

Pada akhirnya, sebenarnya novel ini lebih berorientasi ke dalam genre roman antara Mapata-Batari dan Bissu Rusmi-Andi Upe. Sedangkan justru unsur sejarah serta unsur kebudayaan Sulawesi Selatan hanya menjadi bumbu pemanis untuk plot utama novel. Akan tetapi, Faisal Oddang dengan kelihaiannya dalam kepenulisan berhasil membangun persepsi pembaca sehingga novel terkesan berat akan sejarah dan kebudayaannya layaknya novel milik Pramoedya Ananta Toer. Berdasarkan kelihaian tersebut, Oddang membuktikan bahwa unsur estetikan dalam novel telah lengkap dan memenuhi 5 parameter yang meliputi kesatuan, keharmonisan, kesimetrisan, keseimbangan, dan pertentangan.

Komentar

Postingan Populer